Kegiatan yang diikuti mahasiswa Magister Hukum dan sivitas akademika UMKT tersebut berlangsung interaktif. Dalam kesempatan itu, Andi Harun membawakan materi mata kuliah Hukum Administrasi Pemerintahan dengan mengaitkan teori hukum dan praktik penyelenggaraan pemerintahan.
Turut hadir mendampingi dalam kegiatan tersebut Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Kota Samarinda, Syaparudin.
Dalam pemaparannya, Andi Harun menjelaskan hubungan antara hukum, politik, dan kekuasaan dalam sistem ketatanegaraan. Ia menegaskan pentingnya konstitusi sebagai instrumen pembatas kekuasaan agar penyelenggaraan pemerintahan tetap berjalan sesuai prinsip hukum dan tidak bersifat sewenang-wenang.
Selain membahas teori dasar hukum administrasi negara, ia juga mengajak mahasiswa memahami hukum secara lebih luas dengan melihat aspek sosial, politik, dan filosofi yang melatarbelakangi lahirnya suatu regulasi.
Berbagai konsep dalam hukum administrasi pemerintahan turut dibahas, mulai dari constitutionalism, diskresi pemerintahan, penyalahgunaan wewenang, hingga perkembangan konsep negara modern menuju welfare state.
Andi Harun juga menyinggung teori sistem hukum Lawrence M. Friedman yang mencakup struktur hukum, substansi hukum, dan budaya hukum. Menurutnya, tantangan penegakan hukum tidak hanya berkaitan dengan aturan dan aparat, tetapi juga kesadaran hukum masyarakat.
“Kadang aturan sudah baik, aparat tersedia, tetapi budaya hukumnya belum mendukung. Ini menjadi tantangan bersama,” ujarnya.
Dalam sesi tersebut, ia turut membagikan pengalaman pribadi saat menempuh pendidikan hukum di tengah keterbatasan ekonomi. Pengalaman bekerja sambil kuliah disebut menjadi bagian penting dalam membentuk kedisiplinan dan semangat belajar.
Tak hanya itu, Andi Harun juga menyoroti tantangan birokrasi di era digital, termasuk penerapan e-government, pemanfaatan big data, kecerdasan buatan, serta pentingnya tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel.
Ia mengingatkan mahasiswa untuk menjaga integritas dan tidak terjebak pada orientasi kekuasaan semata.
“Jabatan itu tidak selamanya. Yang terpenting adalah tetap menjaga kesederhanaan dan integritas,” pesannya.
Perkuliahan ditutup dengan motivasi kepada mahasiswa agar terus meningkatkan kapasitas diri, menjaga kerendahan hati, dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk memberi manfaat bagi masyarakat. (adv)












































