SAMARINDA – Nuansa budaya yang hangat dan penuh semangat terasa di Kota Samarinda pada Rabu malam, 16 Oktober 2025, saat pembukaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kalimantan Timur 2025 berlangsung meriah.
Acara yang dihelat oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, di bawah naungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek, ini menjadi wadah penting untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerah.
Peserta dari jenjang SD dan SMP yang datang dari tujuh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur menampilkan berbagai pertunjukan seni, mulai dari tari tradisional hingga pentas berbahasa daerah. Ratusan siswa bersama para guru pendamping tampak antusias mengikuti pembukaan yang berlangsung penuh semangat.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, Asep Juanda, S.Ag., M.Hum., menjelaskan bahwa FTBI merupakan bagian dari program revitalisasi bahasa daerah yang digulirkan sepanjang tahun. Ia menuturkan bahwa kegiatan ini tidak hanya melatih anak-anak untuk berbahasa daerah dengan baik, tetapi juga mengajak mereka memahami nilai-nilai budaya yang hidup di dalamnya.
Menurut Asep, pelaksanaan FTBI 2025 menjadi bukti nyata komitmen Balai Bahasa dalam menghidupkan kembali penggunaan bahasa daerah di kalangan pelajar. “Anak-anak kini lebih percaya diri menggunakan bahasa daerah, baik dalam karya sastra maupun dalam pertunjukan yang mereka tampilkan,” ujarnya.

Tahun ini, tercatat 92 peserta dari Kabupaten Paser, Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Kota Samarinda turut berpartisipasi. Asep menilai, tingginya partisipasi tersebut menandakan bahwa kepedulian terhadap pelestarian bahasa daerah semakin meningkat di kalangan muda.
Ia juga menegaskan bahwa tujuan utama festival ini bukan semata mencari juara, melainkan membentuk karakter anak agar bangga terhadap bahasa ibunya sendiri. “Pelestarian bahasa daerah sebaiknya dimulai dari rumah. Keluarga adalah tempat pertama anak mengenal dan menumbuhkan rasa cinta terhadap bahasa ibu,” tambahnya.
Dalam sambutannya, Asep turut mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali semangat Trigatra Bahasa di era digital saat ini — yaitu menjunjung tinggi bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing sebagai bekal menghadapi masa depan.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dr. Dora Amalia, menyampaikan bahwa FTBI 2025 diselenggarakan secara serentak di 30 provinsi di seluruh Indonesia. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga eksistensi bahasa daerah sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.
Dr. Dora menambahkan, festival semacam ini memberi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan berbahasa daerah sekaligus menjadi ajang apresiasi bagi mereka yang berprestasi. Para pemenang tingkat provinsi nantinya akan melaju ke ajang FTBI tingkat nasional.
Menutup sambutannya, Asep Juanda menyampaikan harapan agar lebih banyak bahasa daerah yang dapat direvitalisasi di masa mendatang. Ia menuturkan bahwa tahun depan pihaknya berencana menambah satu bahasa daerah baru, bahasa Benuaq, ke dalam program pengembangan bahasa daerah di Kalimantan Timur.
“Melestarikan bahasa daerah berarti menjaga jati diri bangsa,” ujarnya penuh semangat. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan FTBI sebagai gerakan bersama dalam memperkuat literasi dan menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri.














































