Tenggarong – Erau merupakan Tradisi Budaya Kesultanan Kutai Kartanegara sejak ratusan tahun lampau, namun ada sejumlah upacara sakral yang harus dilakukan yaitu bernama Merangin.
Prosesi Merangin ini adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau, dengan tujuan untuk memberitahukan kepada khalayak ramai di mana saja, bahwa beberapa hari lagi erau adat akan berlangsung.
Ritual Merangin ini diawali dengan pembacaan mantra oleh pimpinan upacara dan diikuti tujuh belian laki serta tujuh orang belian bini dengan mengelilingi Binyawan yang terletak di tengah bangunan.
Sambil membacakan mantra pimpinan upacara itu pun sesekali menghamburkan beras kuning, pertanda upacara merangin akan segera dimulai.
Usai melaksanakan pembacaan mantra kemudian tujuh belian laki berdiri dan langsung mengelilingi Binyawan serta berputar dengan iringan tabuhan gendang.
Sementara itu tabuhan gendang dan gong berirama terus-menerus mengalun mengiringi ritual tersebut, sehingga suasana prosesi merangin inipun semakin magis. Apalagi ketika tujuh orang belian laki mulai berputar mengelilingi Binyawan yang terletak di tengah bangunan.
“Ritual Merangin ini adalah sebuah perjalanan kita untuk memberitahukan kepada khalayak ramai, bahwa Erau akan segera digelar dan kita juga memohon Erau dapat berjalan dengan lancar,” terang koordinator Merangin (Belian), Sartin.
Prosesi Merangin ini pun diakhiri dengan tarian belian bini berjumlah 7 orang sambil mengelilingi tiang binyawan sebanyak tujuh kali.
Ritual Merangin ini dilaksanakan di Serapo belian selama 3 malam berturut-turut sebagai media pemberitahu kepada khalayak ramai bahwa Erau Adat akan segera digelar.
Pewarta Fairuz














































