Samarinda– Laju pertumbuhan ekonomi akan terhambat lantaran bank-bank sentral terus mengerek suku bunga acuannya, sehingga ancaman resesi sulit dihindari. Akibatnya krisis ekonomi global diprediksi terjadi pada 2023 mendatang.
Kondisi ini dapat menciptakan stagflasi atau situasi di mana pertumbuhan ekonomi melambat disertai dengan kenaikan harga (inflasi). Salah satu negara yang memiliki risiko resesi ekonomi yakni Indonesia sebesar tiga persen.
Salah satu pemicu ekonomi krisis ini yakni perang Rusia dan Ukraina yang terus berlanjut menyebabkan krisis energi dan krisis pangan disertai dengan harga yang terus melambung tinggi. Terlebih Ukraina merupakan pemasok terbesar kebutuhan pangan dan pupuk untuk dunia.
Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim) mengatakan bencana krisis ekonomi itu tidak akan terjadi di Indonesia. Khususnya Kaltim sebagai pulau penghasil Sumber Daya Alam (SDA).
“Lahan di Kaltim juga luas untuk memproduksi bahan pangan hingga Sumber Daya Energi (SDE). Saya yakin tidak akan terjadi di Kaltim,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
Menurutnya, masyarakat Indonesia, khususnya Kaltim tidak perlu khawatir dengan ancaman resesi 2023 mendatang. Lantaran negara berlambang merah putih dan Benua Etam sudah mempersiapkan segalanya untuk menghindari hal tersebut.
Samsun bilang yang perlu dilakukan adalah memperbaiki pola pengelolaanya. Keseimbangan lingkungan harus menjadi prioritas utama agar komoditas yang diambil dari alam tidak merusak alam.
“Kita bisa melakukan pengembangan pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Memikirkan kontinuitasnya juga,” ujarnya.
Kendati demikian, Samsun menyebutkan ancaman krisis global harus tetap diwaspadai. Berbagai upaya pasti bisa dilakukan secara bertahap dan terukur untuk meminimalisir potensi terjadinya resesi.
Proyeksi krisis ekonomi global sejalan dengan laporan World Economic Outlook, Countering The Cost of Living Crisis yang dirilis Dana Moneter Internasional (IMF). Di mana pertumbuhan ekonomi pada 2023 mendatang terlemah sejak 2021, kecuali masa Covid-19 dan krisis keuangan global. (Mira/adv/dprdkaltim)














































