Opini – Apa yang terjadi dengan generasi dan masyarakat kita akhir-akhir ini sungguh memprihatinkan, berbagai macam perbuatan yang menunjukkan rendahnya dan menurunya kualitas moral dan etika yang melekat pada dirinya.
Hal ini bisa kita telisik beberapa kasus komentar negatif di dalam sosial media banyak sekali warganet mengeluarkan komentar yang sangat menyayat hati betapa tidak, ditengah-tengah duka tenggelamnya KRI Nanggala 402 justru ada beberapa oknum yang mengeluarkan ucapan-ucapan ataupun kata-kata tak pantas dan tak semestinya yang harus di sampaikan diranah publik yang dalam kondisi berduka. Tidak hanya itu saja fenomena yang lainya adalah ketika para masyarakat kita sedang gandrung dengan aplikasi video kreatif yang alih-alih kontenya mendidik malah justru sebaliknya jauh dari nilai-nilai moral dan adab serta budaya kita. Tidak hanya itu saja ada beberapa fenomena anak-anak melakukan kegiatan peribadatan dengan menirukan gaya free style selayakya bukan ditempat ibadah dan masih banyak lagi contoh yang lain.
Bahkan yang lebih menghebohkan dan sungguh ironis lagi adalah pada beberapa waktu yang lalu ada sebuah perusahaan software raksasa di dunia yaitu Microsoft melakukan survey terkait tingkat kepatutan dan kesopanan digital global dan hasilnya sangat mengejutkan yaitu warganet kita menduduki peringat paling bawah dan bahkan yang terburuk se asia tenggara. Ini merupakan tamparan keras bagi kita semua sebagai bangsa berbudaya hal ini bertolak belakang dengan program revolusi mental, seakan-akan program yang di gaung-gaungkan oleh pemerintah dengan jargonya revolusi mental yang dimulai pada tahun 2014 nihil tiada hasil dan mengalami kegagalan ditengah jalan.
Bagaimana moral itu menurut ahli, beberapa ahli mempunyai pandangan tentang pengertian moral salah satunya menurut Maria J. Wantah moral adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai dasar guna menilai perbuatan seseorang yang dirasakan baik atau buruk di dalam sebuah masyarakat. Menurut kamus Psikologi moral adalah sesuatu urusan yang mengacu untuk akhlak yang cocok dengan ketentuan sosial, atau mencantol hukum atau adat kelaziman yang menata tingkah laku. Dalam agama Islam Nabi Muhammad bersabda yang artinya “Malu adalah sebagian dari iman”.
Bagaimana bisa bangsa yang berbudaya, dan mengedepankan nilai-nilai susila justru malah kehilangan arah jadi dirinya yang selama ini melekat pada masyarakat kita dengan ramah tamahnya dan sopan santunya. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi merosotnya moral masyarakat kita akhir-akhir ini :
- Faktor lingkungan, lingkungan dimana kita melakukan interaksi sosial setiap hari akan sangat berpenggaruh terhadap terhadap perilaku kita, baik itu lingkungan sekolah maupun lingkungan dimana kita tinggal. Ada pepatah mengatakan “Jika kita bergaul dengan penjual minyak wangi maka akan ikut harum, dan jika kita bergaul dengan pembuat arang maka kita akan bau asap”.
- Faktor kemajuan dan perkembangan teknologi informasi, kemajuan teknologi informasi merupakan suatu hal yang tidak dapat kita hindari dengan kemajuan teknologi kita dapat mengakses semua informasi yang kita perlukan, tetapi di dalam kemajuan teknologi informasi ada dampak positif dan negatife tergantung bagaimana kita mensikapinya. Jika kita terlalu dominan terhadap hal-hal yang negatife bukan keniscayaan akan berpengaruh terhadap perilaku dan gaya hidup kita yang jauh dari kata bermoral dan berbudaya.
- Faktor keluaraga dan orang tua, faktor keluarga juga menjadi kunci terhadap merosotnya moral dan etika para generasi kita saat ini, tidak sedikit orang tua yang lali serta disibukkan dengan urusan pekerjaan melupakan tanggung jawabnya terhadap perkembangan dalam mendidik anak-anaknya.
Tiga faktor diatas setidaknya bisa menjadi konsen kita untuk melakukan antisifasi lebih dini dan menangkal hal-hal yang dapat merusak moral dan etika generasi kita.
Langkah-langkap apa saja yang harus kita lakukan untuk mengembalikan dan dan membentengi generasi kita agar tercipta generasi yang betul-betul bermoral dan beretika sesuai dengan norma-norma kesusilaan dan budaya kita.
- Mengembalikan lembaga pendidikan atau sekolah sebagai peradaban budaya, sekolah diharapkan mampu memberikan sebuah pendidikan moral yang sangat cukup terhadap peserta didiknya di samping pendidikan tentang ilmu pengetahuan dan intelektual. Disamping itu juga menjadikan sekolah sebagai tempat belajar bukan sebagai tempat ajang kompetsisi sehingga akan mempenggaruhi pola pikir peserta didik kita terhadap prestasi angka-angka tanpa mempedulikan nilai-nilai kejujuran.
- Mengoptimalkan peran orang tua sebagai pengasuh dan pendidik dilingkungan keluarga, setidaknya orang tua mampu memberikan perhatian lebih dan memberikan pendidikan nilai-nilai sopan santun serta etika ditengah-tengah kesibukanya mencari nafkah terhadap perkembangan buah hatinya. Disamping itu juga orang tua berperan sebagai pengawas terhadap pergaulan anak-anaknya dengan siapa saja dia berkawan dan ke lingkungan mana saja dia berinteraksi.
- Pendidikan agama, agama berperan penting sebagai filter terhadap budaya-budaya negatife yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan moral dan etika generasi kita, dengan mengajarkan anak-anak kita terhadap ilmu agama mereka akan menjadi tahu mana perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan perbuatan-perbuatan yang diperbolehkan oleh agama.
- Menciptakan lingkungan sehat dan berbudaya, bagaimana menciptakan lingkungan yang sehat dan berbudaya setidaknya lingkungan dimana kita tinggal mempunyai program-program pembinaan terhadap anak-anak dan remaja kepada hal-hal yang positif seperti olahraga, literasi dan kerajinan yang dilaksanakan secara rutin dan berkala sesuai dengan jenjang usia dan minat serta bakatnya.
Semoga dengan berbagai upaya yang kita lakukan dapat mengembalikan dan membentengi generasi kita dari citra negatif, dan bangsa kita terhadap nilai-nilai moral yang akhir-akhir ini mengalami penurunan yang sangat drastis.
Fastabiqul Khoirot

Penulis Opini : Suharman, S.Pd













































