Kutai Kartanegara, linimasa.co – Sejak empat bulan terakhir harga jahe terjun bebas, para petani pun menjerit. Disaat ujian ekonomi yang makin sulit akibat serangan pandemi Covid-19, harga jahe yang biasanya dijual diangka Rp 25 ribu per kilogram anjlok ke angka Rp 5 ribu hingga Rp 8 ribu per kilogram.
Salah satu petani jahe di Desa Jonggon Jaya, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Adhie Irawan mengatakan sebelumnya harga jahe sempat meroket diawal pandemi, karena diyakini jahe mampu menangkal virus corona, banyak petani jahe yang untung dadakan saat itu. Namun beberapa bulan terakhir ini, harga jahe merosot.
“Harga jahe turun drastis terutama jahe putih, sehingga banyak hasil panen petani yang tertumpuk saja. Sayang jika dijual dengan harga sangat murah dibanding modalnya.” ungkapnya.
Dikatakan Adhie ada beberapa faktor penyebab harga jahe turun, diantaranya pasokan jahe dari luar Kalimantan Timur banyak yang masuk, sehingga harga jahe lokal merosot.
Selain itu adanya serangan wabah pada tanaman sehingga petani terpaksa menjual jahenya yang masih muda.
“Banyak yang terkena virus sehingga demi menyelamatkan jahe, ya terpaksa dijual dini. Yang penting kembali modal ajalah,” tambahnya.
Turunnya harga jahe membuat petani harus memilih bertahan atau mengalah. Namun Adhie Irawan beserta rekannya Ari Zulfahir berinisiatif untuk melakukan inovasi demi menyelamatkan para petani jahe dari kerugian yang berlebih.
Melimpahnya jahe di desa tersebut, membuat kedua orang ini menginisiasi masyarakat untuk membuat olahan jahe dengan nama N’Deso. Adapun varian produknya yakni Wedang Jahe, Jahe original dan kopi jahe.

“Ya salah satu solusinya ya kita buat olahan jahe siap saji, agar warga disini bisa mendapatkan profit dengan cara lain selain menjual mentahnya,” ujar Ari, pria yang menetap di Desa Jonggon Jaya ini.
Usaha minuman jahe ini mereka tekuni sejak Agustus 2021 lalu. Adhie mengaku mereka memproduksi minuman jahe di dua tempat yakni di Desa Jonggon dan Samarinda.
“Ini masih skala mikro usahanya, kami mempekerjakan 8 orang untuk mengolah jahe ini, Mulai dari pengupasan, proses bubuk hingga ke packing,” tutur Adhie
Usaha olahan jahe siap saji ini mendapat tanggapan positif dari masyarakat, pasalnya bahan baku yang digunakan berasal dari kebun masyarakat desa. Hal ini tentunya berdampak positif terhadap perkembangan ekonomi warga.
“Kami juga mendapatkan bantuan mesin traktor untuk kelompok tani dari Kodim 0906/Kutai Kartanegara. Kami berharap agar mendapatkan pembinaan sehingga nantinya bisa memproduksi secara kontinyu dan berkesinambungan.” harapnya
Menurut Adhie, pihaknya membeli jahe kepada para petani setiap dua hari 100 kilogram bahkan mencapai 1 ton setiap minggunya.
“Setiap satu bungkus terdiri dari 100 gram jahe bubuk, harga perbungkusnya Rp 15 ribu. Nah satu bungkus bisa mencapai 8 gelas, terserah selera masing-masing,” ungkapnya
Dia membeberkan isi kemasan terdiri dari campuran jahe, gula aren, sereh, katu manis dan gula pasir. Untuk pemasaran, sementara menggunakan media sosial dengan penjualan online.
“Kami jualnya di medsos, pakai Facebook, alhamdulillah banyak yang beli bukan hanya dari Tenggarong tapi juga dari luar kota, Balikpapan, Samarinda, Kutai Barat dan Bontang,” bebernya
Dirinya berharap pemerintah memberikan kemudahan dalam pengurusan izin dan pembinaan, agar Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dapat tumbuh subur di Desa Jonggon Jaya.
“Untuk izin, kami telah mengajukannya namun ada beberapa syarat yang harus kami penuhi, tapi bertahaplah. Kita ini baru memulai, maka sangat diharapkan arahan dan bimbingannya agar kami juga bisa mengembangkan usaha ini dengan melibatkan masyarakat desa,” pintanya.
Ditanya mengenai makna nama N’Deso, Ari dan Adhie kompak menjawab, nama itu dari kondisi desa yang jauh dari pusat kota, dengan harapan Desa Jonggon bisa dikenal banyak orang.
“Ya karena ini asalnya dari desa, makanya kami kasih nama N’Deso, agar orang lain tahu bahwa orang desa juga mampu berinovasi,” jawabnya sambil tertawa.
Redaksi














































