Samarinda, linimasa.co – Siapa yang tak kenal dengan hidangan satu ini, hampir di setiap tempat memiliki nama yang selalu diikuti nama daerahnya, apalagi kalau bukan soto.
Soto adalah makanan khas nusantara, makanan berkuah seperti sop terbuat dari kaldu ayam, daging atau sayuran. Makanan ini merupakan kuliner terpopuler di nusantara, banyak ragam atau variannya, misalnya saja, Soto Madura, Soto Banjar, Soto Lamongan dan banyak versi lainnya.
Di Samarinda terdapat Soto Daging PBB Khas Kediri, namanya unik karena ada kata ‘PBB’, bagi yang pernah membaca dibangku sekolah pasti langsung mengingat organisasi besar dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa, nama PBB yang ini bukan akronim dari kata tersebut, ayo kita simak kisah pemilik warung soto ini

Wanita berusia 35 tahun ini memulai berjualan soto sejak Agustus tahun 2020, kendati baru seumur jagung namun Yulianti mampu meraih omset Rp 1 juta perharinya.
“Warung ini buka di tengah pandemi, tapi alhamdulillah ada saja konsumen yang mencari soto daging PBB khas Kediri ini,” tutur Yuli
Ibu satu anak ini merupakan mantan pegawai di salah satu perusahaan swasta. Dirinya menggeluti usaha kuliner setelah keluar dari perusahaan. Yuli yakin, dengan usaha sendiri maka dirinya bisa mandiri, mampu mengatur waktu dan bisa membantu orang lain
“Dulu saya buka catering namun tidak berjalan begitu bagus, hingga akhirnya saya mencoba membuka warung soto ini,” ujarnya
Yuli mengaku awalnya tidak begitu yakin bisa berhasil di tengah pandemi covid-19 namun suami dan kerabatnya memberikan dukungan hingga akhirnya membuka warung soto. Meskipun harus dimulai dengan usaha franchise
“Sistemnya franchise, saya membeli bumbunya saja, untuk bahan lainnya termasuk daging, saya beli sendiri,” bebernya
Awalnya dia mempekerjakan lima orang karyawan namun tidak lama berselang dirinya harus mengambil sikap untuk menyelamatkan usahanya, hingga dengan berat hati mengurangi jumlah karyawannya, tersisa tiga orang
“Waktu itu ada aturan pemerintah untuk pembatasan jam operasi, sampai pukul 20 wita saja, akhirnya karyawan saya kurangi,” kisahnya

Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang dikeluarkan oleh pemerintah sangat berdampak oleh usaha yang digelutinya. Namun tak patah arang, Yuli pun merubah sistem dagangnya. Dirinya mengaku bekerja sama dengan beberapa aplikasi online alhasil dagangannya pun dapat dinikmati oleh konsumen tanpa harus datang ke warung
“Alhamdulillah kadang bisa sampai 1,5 juta sehari kalau lancar.” kata Yuli
Warung yang terletak di jalan Gunung Cermai nomor 34 Samarinda, memiliki rasa yang khas, menurutnya, warga Samarinda terdiri dari masyarakat yang heterogen, banyak yang dari luar pulau Kalimantan. Hal itulah yang diyakini Yuli, dengan membuka warung soto daging khas Kediri, menurutnya pelanggan mampu mengobati rasa kangen masakan daerahnya
“Soto daging ini memiliki rasa yang khas, kuahnya sangat kuat, rasa rempahnya terasa banget,” ujar Hendra salah satu konsumen
Ditanya soal kepanjangan dari PBB, Yuli tertawa dan menjelaskan bahwa PBB merupakan singkatan dari Pak Bambang, pemilik franchise soto daging khas kediri tersebut
“Namanya pak Bambang, jadi disingkat PBB, jadi kalau ditulis tidak kepanjangan,” ungkapnya seraya tertawa
Redaksi














































