KUTAI KERTANEGARA – Desa Kayu Batu di Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), berencana mengembangkan potensi pariwisata lokal yang menjanjikan, termasuk mengembangkan objek wisata ekowisata Pulau Nusa Tuna, yang terkenal sebagai pulau pasir putih di kalangan warga setempat. Dengan letaknya yang strategis dekat danau serta Sungai Mahakam, Desa Kayu Batu memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata alam unggulan di Kukar.
Pemerintah Desa Kayu Batu, dengan dukungan masyarakat setempat dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis), bertekad mengembangkan potensi wisata ini untuk menciptakan pengelolaan yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga desa melalui pariwisata alam. Kepala Desa Kayu Batu, Shofyandani, mengungkapkan bahwa Pulau Nusa Tuna memiliki beragam tanaman endemik dan anggrek yang khas, menjadikannya daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
“Di Desa Kayu Batu, potensi wisata terletak di sekitar danau dengan Pulau Nusa Tuna atau pulau pasir putih. Kami berkeinginan untuk mengembangkan potensi wisata alam ini,” ungkapnya pada Kamis, 27 Juni 2024. Shofyandani menambahkan bahwa jika area sekitar pulau dibersihkan dan dikelola dengan baik, tempat ini bisa menjadi destinasi wisata danau yang menarik bagi wisatawan.
Pulau Nusa Tuna tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memukau, tetapi juga menjadi habitat asli bagi berbagai hewan dilindungi seperti bangau tong-tong, bangau putih, dan spesies burung lainnya. Ini menambah nilai tambah bagi para pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus mengamati fauna yang dilindungi.
Namun, Shofyandani mengakui bahwa pengembangan wisata Pulau Nusa Tuna masih menghadapi beberapa kendala.
“Saat ini kendalanya adalah belum terwujudnya tempat wisata ini karena beberapa lahan di pulau tersebut dimiliki oleh masyarakat, dan juga karena keterbatasan dana dari BUMDes kami,” ucapnya. Untuk itu, ia berharap dukungan dari dinas terkait agar potensi pariwisata di Desa Kayu Batu dapat dikembangkan secara optimal.
Dukungan dari dinas terkait diharapkan dapat memberikan bantuan dana dan fasilitasi dalam pengelolaan lahan yang dimiliki oleh masyarakat. Dengan sinergi antara pemerintah desa, masyarakat, dan dinas terkait, pengembangan Pulau Nusa Tuna diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat.
Selain itu, partisipasi aktif dari kelompok sadar wisata (Pokdarwis) sangat penting dalam menjaga kelestarian alam dan pengelolaan wisata yang berkelanjutan. Dengan melibatkan masyarakat setempat, pengelolaan Pulau Nusa Tuna diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan.
Desa Kayu Batu memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata unggulan di Kutai Kartanegara. Pengembangan ekowisata seperti Pulau Nusa Tuna dapat menarik wisatawan lokal dan mancanegara, memberikan dampak positif pada perekonomian desa, dan mempromosikan keindahan alam Kukar. Keberhasilan pengembangan wisata ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kukar yang memiliki potensi wisata serupa.
Shofyandani optimis bahwa dengan kerja sama dan dukungan dari berbagai pihak, Pulau Nusa Tuna akan menjadi destinasi wisata yang populer dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat Desa Kayu Batu.
“Jika potensi wisata alam ini dikembangkan, wisatawan dapat menikmati keindahan alam sekaligus mengamati hewan-hewan yang dilindungi. Kami berharap dukungan penuh dari dinas terkait agar pengembangan ini dapat terealisasi dengan baik,” pungkasnya.
Dengan pengembangan yang tepat, Pulau Nusa Tuna di Desa Kayu Batu berpotensi menjadi salah satu destinasi ekowisata terbaik di Kalimantan Timur, membawa dampak positif bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat lokal, serta menjaga kelestarian lingkungan dan satwa liar di kawasan tersebut.(*)














































