Banyuwangi, linimasa.co – Terjadi kejadian unik yang terekam pengawas atau CCTV di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (4/6/21) malam lalu. Sekilas tampak cahaya terang berada di langit dan sejurus kemudian terdengar dentuman keras. Cahaya tersebut bergaris memanjang seolah merobek langit pekat yang menghitam. Suaranya pun bak sebuah genderang perang yang ditabuh pasukan berani mati.
Foto yang menghebohkan jagat maya tersebut berasal dari tangkapan CCTV pemantau Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung. Berdasarkan keterangan Ketua PPGA Raung, Mukijo membenarkan foto yang beredar itu. Dirinya menjelaskan Saat terjadi kilatan tersebut, sejenak langit di atas Gunung Raung menjadi sangat terang. Samar-samar kemudian meredup. Namun waktu berlalunya sangatlah cepat. Dilansir dari Times Indonesia Sumber cahaya tersebut berasal dari atas Gunung setinggi 3.332 mdpl.
“Terjadi sekira pukul 19:51:10 WIB dan terekam kamera pengawas kami. Tetapi itu bukan dari aktivitas Gunung Raung,” ujarnya
Dilaporkan, Gunung Raung tidak mengalami kenaikan status. Baik kegempaan maupun aktivitas vulkanik terpantau normal pada amplitudo 0,5. Suhu udara di antara 17 derajat hingga 23 derajat.
“Meski terekam kamera kami, tidak bisa kami katakan itu benar adalah meteor karena tugas kami bukan mengamati benda langit, tetapi aktivitas Gunung Raung ini.” tambahnya.
Dentuman keras yang terjadi usai kilatan tersebut rupanya didengar oleh masyarakat yangada di sekitar Gunung Raung, termasuk kawasan Kecamatan Kalibaru dan perbatasan Banyuwangi Situbondo.
Fenomena Astronomi di Bulan Juni
Adanya dugaan meteor jatuh di Banyuwangi mungkin erat hubungannya dengan fenomena Astronomi yang bakal sampai di tanggal 7 Juni 2021 mendatang. Dari pantauan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), dilaporkan hujan meteor Arietid aktif sejak 14 Mei hingga 24 Juni mendatang.
“Hujan meteor ini dapat disaksikan saat menjelang fajar dari berbagai tempat di Indonesia,” Kepala Bidang Diseminasi Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Emanuel Sungging Mumpuni mengutip Antara, Jumat (4/6).
Menurutnya hujan meteor dapat disaksikan langsung tanpa menggunakan alat bantu. Hujan meteor Arietid merupakan satu-satunya hujan meteor yang dapat disaksikan ketika siang hari. Pada saat puncak hujan meteor, akan ada 50 meteor per jam ketika di zenit, dapat disaksikan dari arah timur-timur laut sebelum fajar astronomis, berkulminasi di arah utara pada pukul 10.00 waktu setempat dan terbenam di arah barat-barat laut pada pukul 16.00 waktu setempat.
Dilansir dari CNN, Pada 8 Juni 2021, masyarakat dapat menyaksikan fenomena astronomi yakni apoge bulan. Apoge bulan adalah kondisi ketika Bulan berada pada titik terjauh dari Bumi, sehingga Bulan akan terpantau lebih kecil. Apoge bulan itu terjadi pada pukul 09.38 WIB. Selain itu, telah terjadi fenomena astronomi menarik lainnya di awal Juni 2021 yakni fase bulan perbani akhir pada 2 Juni, dan ketampakan terakhir Merkurius ketika senja pada 3 Juni.
“Hujan meteor Arietid diduga berasal dari sisa debu asteorid Icarus dan komet periodik 96P/Machholz.” ungkapnya
Kendati demikian, Lapan belum bisa memastikan sumber utama hujan meteor tersebut.














































