CATATAN “Dari Teratai”
” +, Down”
Oleh Riski Maulana Perwira Atmaja
Ini sudah masuk hari ke 7 saya kena Covid 19. Menderita. Jenuh. Batuk tidak hilang-hilang, tenggorokan sakit minta ampun. Kemasukan air yang manis seperti teh kotak, makin perih. Badan linu-linu. Nyeri di dada. Pagi, siang, sore, malam, minum obat terus. 4 sampai 6 butir sekali minum. Salah satu obatnya Favipiravir (obat golongan antivirus buatan Toyama Chemical Co.Ltd Jepang). Belum lagi pagi, siang, sore, malam harus disuntik pereda nyeri dada. Disuntikkan lewat selang infus. Saya sudah habis 6 botol infusan. Sempat tidak jalan. Buntu. Oleh perawat kemudian dicabut. Dipindah ke tangan kanan dekat pergelangan.
Awalnya tetap di tangan kiri. Tapi cucukan gagal terus. Maka dipindah ke sebelah. Sakit? Anda bayangkan sendiri gimana kalau dicucuk jarum bolak-balik. Saya disuntik pereda nyeri dada pukul 10 malam lewat. Setelah itu, dipindahkan ke kamar Teratai 6A tepat jam 1 dini hari tadi. Was-was juga. Suster hanya bilang “Dipindah sesuai penyakitnya”. Saya coba tenang. Tapi begitu masuk ke kamar, di dalam sudah ada 3 pasien.
Di dalam sudah standby 4 tabung oksigen. Di sebelah-sebelah saya sudah pakai oksigen semua. Dan sudah 2 kali di-PCR. Down juga jadinya. Rupanya kelas berat. Saya punya keyakinan kalau hasil PCR saya positif. Tapi suster tidak memberi tahu. Hanya dari sikapnya, saya yakin positif. “biar dokter nanti yang jelaskan ya pak”, katanya.
Di ruangan ini sudah pada mutar ayat-ayat Al Qur’an. Paginya tensi saya 97/80 mmHg, oksigen dalam darah 98-99. Kepala rasanya ngliyeng (pusing). Suara batuk di ruangan bersahut-sahutan. Satu ruangan keluhannya sama. Napas sesak, batuk, tenggorokan sakit. Di ruang sebelah sayup-sayup terdengar lagu-lagu rohani Christian. Ada yang teriak kesakitan. Nyaring. Infonya, pasien anak muda. Ada komorbid (penyakit penyerta), ambeyen.
Teman sekamar saya yang bilang. Sebelumnya mereka satu ruangan. Teman satu ruangan diambil darahnya. Saya tinggal nunggu giliran. Sebelah ranjang saya, umurnya 50 an tahun. Orang Waru. Namanya pak Ponari. Sudah 2 kali di-PCR. Batuknya lebih sering timbang saya. Tensi kedua di tengah hari, tekanan saya 110/80. Tekanan oksigen 97. Masih bagus kata suster. Keluhan saya saat ini sedikit pusing. Tapi baiknya, penciuman dan perasa mulai timbul. Bisa merasakan kuah makanan. Dan aroma minyak kayu putih meski baru samar-samar. Dipaksa tidur juga tidak bisa.
Maka saya buka gawai. Mensugesti biar kuat lawan virusnya. Saya baca bagimana pak Hadi Mulyadi (wakil gubernur Kaltim) kenak Covid 19 akhir tahun lalu dan sembuh, Pak Anies Baswedan (gubernur DKI) yang juga kena, bisa sembuh. Lalu pak Dahlan Iskan (mantan menteri BUMN) kena, juga dan sembuh. Mba Novita, kakak kelas saya di SMA ITCI, kena Covid 19 dan tergolong penderita gejala berat, sudah muntah darah, tidak bisa baring karena cepat muntah, jadi tidurnya duduk, sehingga harus masuk ruang Tulip bisa sembuh.
Itu semua jadi motivasi. Saya punya komorbid Tipoid. Maka sebisa mungkin saya harus jaga hormon Kortisol atau hormon strees terus stabil. Sebab kalau hormon ini tidak dijaga oleh pasien Covid 19 seperti saya, taruhannya dapat meningkatkan keparahan penyakit bahkan resiko kematian. Itu sebabnya rata-rata pasien Covid 19 harus terus diberi semangat. Pengaruhnya besar.
Gejala-gejala yang saya alami ini sebenarnya bentuk reaksi tubuh melawan virus SARS-CoV-2 itu. Kalau masih merasakan gejala berarti masih terus ada perlawanan. Itu bagusnya. Yang penting tekanan saturasi oksigen dalam darah di atas diatas 90 . Normalnya Sp02 seseorang itu 95 sampai 100 persen. Kalau 90 persen ke bawah, berarti kekurangan oksigen dalam aliran darahnya atau dalam istilah medisnya Hipoksemia. Kalau dibawah 60 berarti sudah parah. Sangat kurang oksigen dalam darah sehingga diperlukan oksigen tambahan yang intens.
Kalau di RSPB pasti sudah diisolasi di ruang Tulip yang kelas merawatnya lebih berat sebab pasien tak bisa terlepas dari Ventilator (alat untuk pasien Covid 19 kritis yang dipakaikan pipa napas Endotrakeal yang dimasukkan ke saluran pernapasan dengan sistem inkubasi Endotrakeal dengan cara pasien “ditidurkan” dulu atau dibius). Dipantau ekstra ketat. Makanan menunya tinggi nutrisi.
Saya buat catatan ini supaya Anda bisa tahu gamblang pasien Covid 19 seperti saya itu perawatannya bagaimana. Sakitnya bagaimana. Perlakuannya seperti apa. Menderitanya gimana. Saya masih 36 tahun lho. Anda bayangkan kalau yang kenak Covid 19 orang-orang usia tua, lanjut usia, atau anak-anak. Lebih kasihan. Kalau daya tahan tubuhnya tidak kuat, ya, wassalaam. Ini juga supaya Anda tidak mandang remeh Corona. Virusnya benar-benar ada. Kalau ada yang bilang Covid 19 itu cuma konspirasi, sekadar untuk bisnis kesehatan, untuk banjir anggaran, sebaiknya cepat ubah mindshet-nya. Supaya Anda tidak kena.
Seandainya virus Covid yang nempel di badan saya kelihatan, sudah saya ajak selfie atau swa foto kemudian saya upload supaya Anda percaya 100 persen. Yang saya alami bisa Anda jadikan rujukan. Jaga kesehatan. Patuhi anjuran pemerintah meski kadang berubah-ubah. Tidak usah alasan. Patuhi protokol kesehatan dan pakai masker harus Anda jalankan. Jangan mikir tidak mungkin kena. Jangan berpedoman kerja di lapangan berpanas-panasan lalu corona tidak berani dekat-dekat. Jangan sekadar sudah prokes tapi masih kelayapan tanpa masker.
Saya bukan tipe pekerja yang doyan di ruangan saja. No!. Saya lebih familiar terjun lapangan langsung. Hujan-hujanan iya, panas-panasan oke. Saya kurang apa, pakai masker terus. Hand sanitizer apalagi. Minum wedang jahe sering. Vitamin C juga tidak pernah telat. Tapi masih bisa dijebol sama virus corona.
Pagi ini di pemberitaan media daring, Senin (8/2/2021) di Bontang. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Bontang dr Suhardi kena Covid 19. Padahal dokter. Spesialis jantung. Sudah disuntik vaksin Sinovac gelombang pertama. Tetap kena. Jadi tidak pandang bulu virus corona itu. Maka tidak ada pilihan selain patuh anjuran dan jaga kesehatan. Semua bisa kena. Kalau Anda ngeyel tidak patuh anjuran soal Covid 19, Anda tunggu saja keganasan corona…(bersambung…)













































