Catatan dari Teratai “Corona ngamuk ke saya” kalimat inilah yang mengawali kisah Riski Maulana (35) yang saat ini menjalani karantina dan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Aji Putri Botung Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Dirinya dirawat setelah dinyatakan positif Sars Covid-19. Selama perawatan, Riski menyempatkan dirinya berbagi kisah diawali tentang bagaimana perasaannya menerima hasil laboratorium hingga aktivitasnya selama perawatan di ruang isolasi. Kisah ini ditulis dan diunggah di akun sosial medianya. Tulisan ini diterbitkan atas izin dari pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku Kabupaten PPU, Selasa (16/2/2021). Selengkapnya, berikut kisah haru Riski Maulana Perwira Atmaja.
Catatan dari Teratai
“Corona ngamuk ke saya“. Kita tidak bisa lihat dengan mata telanjang Corona itu bagaimana. Maka, tidak akan pernah tahu akan ketemu dimana, pada saat apa. Bisa jadi tiba-tiba sudah nempel di tenggorokan dan bola mata. Itu yang saya alami sekarang. Kondisi saya bugar. Cek DL (darah lengkap ) dan Widal saya semua normal. Tekanan darah juga normal.
Baru sejak Jumat malam (5/2/2021) tadi saya rasakan ganjil di tubuh. Saya tidak pernah meremehkan virus Corona–Covid 19. Menyikapinya secara berlebihan juga tidak mau. Saya pikir proteksi juga sudah maksimal. Saya akrab bermasker. Malah kadang didobel dua. Di kegiatan tertentu, yang harus berjabat tangan dengan orang, saya selalu pakai handscoon. Bahkan disemprot hand sanitizer. Tapi se-protek-proteknya saya toh kebobolan juga.
Corona ngamuk ke saya. Virus yang merenggut 1,5 juta nyawa di pasar basah Wuhan, China ini buktinya ganas sekali. Tapi sungguh, itu tadi, tidak tahu kenanya dimana? Bisa jadi karena terlalu lelah dan antibody sedang turun. Maklum, beberapa waktu belakangan pikiran dan energi saya terkuras.
Saya dihadapkan banyak persoalan yang terjadi di medio 1990-an. Sebagian besar soal pertanahan. Repotnya sudah silih berganti pamong. Keterangan yang didapat juga bias. Yang saya mau tentulah data faktanya. Berkasnya hambur kaut (istilah dalam bahasa Banjar yang artinya kacau balau), bahkan jejaknya antah berantah. Belum lagi saling lempar.
Dua minggu saya dan rekan-rekan kantor harus bongkar gudang. Cari dokumen lama, sekali ketemu, separuh sudah dimakan rayap. Saya terima banyak tamu beberapa hari ini. Urusan kedinasan dan koordinasi teknis lumayan padat di kabupaten, yang saya jumpai juga tak sedikit. Tak salaman memang, sekadar tos lengan saja. Terakhir, sudah empat malam harus tidur di atas pukul 2 pagi karena harus memilah dan membaca detail data-data lama era transmigrasi dan file 90-an yang tersisa.
Target saya harus segera dapat petunjuk, sebab di luar itu, banyak pekerjaan rumah di Sukaraja yang harus diselesaikan, minimal banyak terkurangi. Mumpung periode saya masih 5 tahun. Biar penerus saya bisa ringan bebannya. Mungkin karena kelelahan itu, pas antibody sedang tidak baik atau dalam tubuh saya sudah ada bibit Covid 19, yang tidak tau darimana asalnya. Kebetulan di Sepaku virus ini juga lagi “naik daun”.
Awal Merasakan Gejala
Sore sekira pukul tiga, saya mulai merasakan demam. Waktu itu setelah minum obat dari kakak saya yang di apotek, bisa tidur. Hanya sempat pesan pada istri untuk pergi nompo – nerima- tamu tempat Pak Jalal, anaknya, Joise, sedang walimatul ursy. Karena hujan dan licin jalannya, istri saya menelpon mbak Rima sahabatnya untuk menemani beli kado dan kemudian berdua ke walimah pakai mobil.
Istri saya hanya ‘mbecek’ istilah jawa kalau berkunjung ke acara manten, karena mengkhawatirkan keadaan saya yang di rumah. Sekalian memamitkan (memberitahu) kalau saya tak bisa hadir. Sebelum maghrib istri pulang. Saya sudah bangun dan sempat makan separuh buah pir. Tau kalau hanya mbecek, saya tegur dia. Sebab tak enak karena Joise dan ibunya datang ke rumah minta ditungguin saat walimah. Saya tidak mau orang kecewa. Minimal kami nongol walau harus memangkas waktu karena saya harus patuh anjuran.
Waktu itu panas badan sudah hilang. Bahkan sempat mandi keramas. Saya ngeyel ngajak kembali ke sana untuk nompo tamu. Istri juga ngotot bilang “jangan!”. Padahal saya sudah pakaian rapi. Dengan penjelasan, luluh saya. Saya baru bisa bayangkan sekarang, seandainya ketika itu saya disana, bisa ratusan orang harus ditracking petugas medis sebab saya positif Covid 19.
Pukul 7 malam keatas, panas di tubuh mulai ngegas. Angka suhu di thermometer 38,5 derajat celcius. Ini saya alami sampai menjelang subuh. Tidak menidurkan orang. Mual sekali. Sama sedikit sesak. Saya dipeluk istri. Lepas subuh baru bisa tidur karena panas mulai turun. Sabtu (6/2/2021) paginya badan saya normal saja. Bugar. Hanya sedikit rasa mual. Sekali muntah. Sampai siang saya aman. Bahkan biasa saja. Ya, sempat marah dengan Moci, kucing kesayangan saya yang ngotori lantai dengan jejak kakinya karena habis main dari luar.
Jelang maghrib, panas mulai datang. Persis. Jam 7 malam ke atas suhunya makin naik. Batuk, tenggorokan sakit, kepala pusing. Mual, lalu muntah. BAB saya juga sudah tidak normal, encer, tapi sedikit ada ampasnya. Saya hanya bisa baring. Minum obat, makan buah. Pukul 10-an malam, di-thermometer, suhunya 38,5. Makin malam makin panas. Sampai 39,2.
Istri rupanya sudah feeling. Tapi dipastikannya “panas hari ke berapa sayang?” tanya istri. Hari kedua jawab saya. Dia tahu saya punya riwayat tipoid. Sudah lama tidak kambuh. Saya tebak juga begitu. Karena gejalanya terus terang sebelas dua belas. Tapi lagi-lagi susah nidurkan orang. Sampai bolak-balik nyalakan belt health, saya sebut bantal kesehatan, yang saya beli di Manado 3 tahun lalu untuk mengatasi panas dingin. Termasuk sakitnya tenggorokkan dan mualnya lambung. Saya sempat baca dan tunjukkan DM bu Lastri Guru SD 005 yang baru pulang dirawat ke istri. Gejalanya serupa katanya. Saya dianjurkan minum rebusan bawang putih. Direbuskanlah, kemudian minum segelas. Tak berasa apa-apa. Padahal biasanya bawang putih pasti aromanya menyengat.
Istri saya mulai gusar. Saya perhatikan jarinya tak berhenti ngetik androidnya. Rupanya konsultasi dengan medis. Cuma tidak tahu persis dengan siapa. Pikir saya ; mungkin dr. Maman. Ini waktunya!. Istri ngambil minyak kayu putih. Saya diminta julurkan lidah. Dia lalu menempelkan telunjuknya di lidah saya dengan lebih dulu diolesi minyak kayu putih. Tak berasa. Diambilkan bawang putih yang diiris ujungnya, tak berasa juga dicium. Terakhir, diminta hirup viks vaporub juga tak berasa. Seketika istri bilang “Sayang kamu Covid”. “Gejalanya menjurus semua kesana”.
Dia bilang begitu sambil tertawa pelan, tapi saya paham dari wajah dan sorot matanya, itu klise. Aslinya sedih. Bisa jadi tak menyangka juga. Sambil nahan sesak bernapas, saya timpali : “Masak sih”. Kemudian saya balas tertawa dan mengelus kepalanya. Waktu itu suhu badan saya sudah 40 derajat. Bola mata saya rasanya mau loncat keluar. Panas sekali. Kepala pusing betul. Dada sesaknya bukan main. Napas pakai mulut. Saya bayangkan, ketiga keponakan saya yang umurnya kira-kira 5, 3, dan 2 tahun ; Hana, Ichan, dan Haikal duduk di dada dan perut saya sekaligus.
Gusar dan Panik
Istri pun menyarankan minggu (7/2/2021) pagi harus tes laboratorium ke RS Aji Batara Agung Dewa Sakti/ABADI Samboja. Malam itu juga dia telpon ibu saya. Lalu minta tolong kakak saya, Frengky untuk ngantar ke Samboja. Pagi itu BAB saya sudah lebih tidak normal. Encer semua. Tidak ada lagi ampasnya. Tenggorokan pun sakit. Saya baru bisa tidur selepas sholat subuh di ranjang dengan tayammum.
Pukul setengah 9 pagi, kami meluncur ke Samboja, ke rumah sakit. Langsung ke UGD. Saya langsung diminta baring di ranjang. Tak lama, seorang perawat laki-laki datang dan cek tekanan darah, serta oksigen dalam tubuh. Sambil kami bincang-bincang. Prediksi saya ketika itu, saya Tipoid. Tak berselang lama, ganti perawat wanita. Hal sama dilakukannya.
Ketika itu istri saya masih sibuk mengurusi administrasi. Maklum, harus bayar umum tak bisa BPJS, karena kondisi badan saya sesuai pemeriksaan betul-betul fit. Total perawatan saya 500 ribu, ditambahi 200 ribu ke suster untuk beli makanan. Istri saya iba melihat wajah-wajah lelah mereka. Waktu itu, feeling suster dengan istri juga sama. Saya Covid. Deteksinya dari gejala yang saya alami. Setelah proses pembicaraan dengan istri, saya, dan suster. Saya pun harus rongten Thorax untuk memeriksa paru-paru.
Ke laboratorium untuk cek DL Widal untuk tahu tipoid atau tidak. Di tempat rapid/swab antigen, saya ditemani istri. Bahkan iseng dia video ketika mau dirapid antigen, saya baca-baca referensi, rapid antigen, swab antigen adalah hal yang sama, saya buru-buru bersihkan kotoran hidung. Ketika alat swab dimasukkan ke hidung, lumayan sakit. Pedis. Terasa sampai kepala. Tak sampai 10 menit hasilnya keluar. Foto rongten, dan uji lab. Semuanya normal. Trombosit, eritrosit, Leukosit, hemoglobin. Tubex TF saja Negatif. Tapi, dibagian bawah, Antigen, Sars-Covid 19 saya Positif. Singkatnya, saya dirujuk ke RS Ratu Aji Putri Botung.

Saat menjalani perawatan (dok pribadi / FB)
Istri saya paham. Demam 39-40 derajat, BAB tanpa ampas dan sesak napas ini nomor satu patokannya. Dia juga memikirkan dirinya sendiri, karena kontak erat dengan saya tiap hari, maka memutuskan untuk swab antigen. Alhamdulillah, hasilnya negatif. Selesai urusan di Rumah Sakit Aji Batara, saya langsung dibawa pulang. Ibu saya sudah panik. Yang di Sepaku, di Babulu. Ya kakak saya, bulek saya kaget campur panik. Mungkin bayangannya seperti di berita-berita televisi, jarang ada yang “selamat kena Covid 19”.
Saya sempat istirahat sebentar begitu sampai di rumah. Istri saya kemas-kemas. Ibu sudah nahan tangis, saya tahu dari suaranya. Tapi istri menguatkannya. Sambil nunggu ambulans Puskesmas Sepaku 1 datang, Om Muron supirnya, saya sempatkan kirim kabar ke beberapa sahabat saya. Juga wa grup Pemdes. Beberapa terkejut. Lalu japri (pesan pribadi via WA) saya, “Bapak yang semangat ya”. Saya tahu mereka kaget juga. Sebab, saya sehat-sehat saja. Hanya ketika kerja bakti hari Jumat pagi, saya sempat bilang ke beberapa staff kalau saya meriang. Tapi saya paksa saja simpun dan angkat-angkat berkas lama yang tersusun di Gobi untuk dipindahkan ke ruang arsip.
Awal tahun ini saya memang merapikan semua kearsipan desa. Biar rapi dan mudah dicari jika diperlukan. Saya ambil pelajaran masalah-masalah dokumen 1990 – 2013 yang hambur kaut tadi. Sekira setengah jam, ambulan datang. Om Muron sudah lengkap ber APD, begitu juga istri saya yang mengantar. Sambil ambulans berputar arah pelan-pelan, saya sempat perhatikan raut wajah keluarga saya satu-satu. Sedih semua. Istri saya sudah nangis.
Di perjalanan sahabat istri saya mba Iin sambil nahan tangis melambaikan tangan persis di depan bengkel suaminya, Afan Motor. Nuri dan mba Nurul di depan Puskesmas memberikan berkas rujukan ke istri, tentu sambil berkaca kaca matanya menyemangati istri, juga saya. Saya diberinya bekal buah-buahan. Sepanjang jalan hujan. Anda tau kan medan jalan daerah Riko sampai Sotek, lepas Sotek ke Giri Mukti. Rasanya saya seperti naik Rodeo, sebuah olahraga kompetitif dari Spanyol, dengan banteng yang ditunggangi koboi. Mual dan pusing sambil nahan panas dingin jadi satu. Nahan muntah. Meski jebol juga.
Pertama kalinya di ruang isolasi
Saya minta mampir ke SPBU, numpang wc. Di dalam saya BAB dan muntah sepuasnya. Hampir jam 6 sore, ambulans sampai ke RS Ratu Aji Putri Botung. Saya langsung ke IGD. Kondisi saya sudah lemas. Mulai panas dingin dan sesak napas. Darah saya diambil lagi. Dan dipasang infus. Hampir 2 jam saya harus nunggu hasil pemeriksaan lagi, istri ijin untuk beli semua keperluan saya selama dirawat. Kira-kira pukul 8 saya baru dibawa masuk ambulans rumah sakit. Ada 5 orang perawat yang saya lewati yang tahu saya akan diisolasi semua bilang “bapak yang kuat ya, Bapak disini cari obat, biar bapak sembuh”.
Semua melambaikan tangan ke saya. Ada yang menaikkan lengannya sebahu dan tangan mengepal, persis seperti emot yang ada di keyboard android. Seketika saya paham, orang kena Covid 19 yang lebih dihantam adalah mental dan pikiran. Pasti semua alumni Covid 19 sama. Pesan moral mereka jelas saya tahu. Meminta sugesti saya untuk sembuh.
Jujur saja, perasaan saya memang campur aduk. Apalagi handphone saya mati. Istri saya tidak tahu kalau saya sudah dipindahkan dan dibawa ke ruang isolasi Teratai. Posisinya di belakang RS itu. Lewat belakang. Masuknya dekat kantor dinas kesehatan. Belok kiri, sampai di Teratai, saya disambut dua suster. Lalu diantar ke ruangan. Sepi sekali. Lorongnya remang sepanjang kaki melangkah, saya perhatikan sekeliling ruangan yang kami lewati.
Para pasien Covid 19. Raut wajahnya rata-rata menyiratkan gusar. Tiba di kamar perawatan yang isinya cuma saya. Saya bawa baring. Suster sempat tanya : “Bapak sesak sekali kah, perlu oksigen sekarang?”. Saya bilang nanti saja. Memang sesak, tapi saya bantu napas lewat mulut. Sambil nunggu istri menyusul, saya hanya mejamkan mata. Tak lama suster datang, memeriksa tekanan darah dan oksigen dalam tubuh. Juga dibawakan nasi kotak dan air mineral.
Kira-kira 1 jam, speaker di ruang Teratai berbunyi. Terdengar nama saya dipanggil. Rupanya istri saya datang. Bawa koper pakaian dan semua kebutuhan makan saya selama diisolasi. Sedih juga. Kami dipisahkan pintu kaca. Dijaga 1 suster. Saya cuma bisa lambaikan tangan sambil pegang infus. Barang yang bisa dibawa masuk sementara hanya charger hp dan handuk. Saya sempat minta selimut ke suster. Di ruangan dingin sekali. Tapi nanti kata suster disiapkan. Karena tak tahan dinginnya, sebab AC sudah diotomatiskan untuk nyala terus, saya tetap minta selimut. Untung istri bawa dan bisa diberikan.
Setelahnya kami pisah, saya hanya bisa pegang keningnya dibalik kaca dan sempat minta foto. Dalam semalam, darah saya diambil 2 ampul. Lalu disuntik cairan pereda mual di teflon selang infus saya. Suhu badan saya 38,1. Pusing sekali. Ada 5 kali suster nengok saya. Dada lumayan sesak, jam 4 saya baru bisa tidur. Jam 6 pagi suster datang kontrol saya dan kembali ambil darah saya 2 ampul, cek oksigen dalam tubuh dan suntikan pereda mual, serta sholat subuh di ranjang dengan telat. Baru jam 10 tadi, saya dirapid dan diswab lagi. Ketika stiknya dimasukkan ke tenggorokan, sakitnya seperti dicekik. Hidung saya dicucuk lagi, saya sudah tak kepikiran mau selfie. (bersambung).













































