KUTIM – Ratusan jamaah menghadiri Tahlil Akbar yang digelar Badan Koordinasi Masjid dan Musala (BKMM) Muslimat NU Kutai Timur (Kutim) di Tempat Pemakaman Umum Gang Banjar, Teluk Lingga, Sangatta Utara, Selasa (17/2/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari penyambutan bulan suci Ramadan dengan suasana penuh kekhusyukan.
Sejak pagi hari, para pengurus dan anggota BKMM Muslimat NU, tokoh agama, serta masyarakat sekitar memadati area pemakaman. Lantunan tahlil, tasbih, tahmid, dan doa menggema di antara pusara, menciptakan suasana hening yang sarat dengan perenungan.
Wakil Bupati Kutim H. Mahyunadi turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan bahwa pengalaman mengikuti haul yang digelar langsung di area pemakaman memberikan kesan spiritual yang berbeda baginya.
Menurut Mahyunadi, suasana pemakaman menghadirkan kedekatan batin yang lebih mendalam saat mendoakan mereka yang telah wafat. Ia mengaku, setiap kali berziarah ke makam sang ayah, dirinya merasakan ketenangan sekaligus kedekatan emosional yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Di lingkungan pemakaman, lanjutnya, seseorang diajak untuk merenungi makna kehidupan dan kematian. Keheningan menjadi ruang refleksi tentang kefanaan hidup serta kesiapan diri menghadapi kehidupan setelah dunia.
Mahyunadi juga mengingatkan pentingnya mempersiapkan bekal amal untuk kehidupan akhirat. Ia mengutip pesan gurunya bahwa kehidupan di dunia ibarat persinggahan sementara bagi seorang musafir yang tengah menyiapkan perbekalan untuk perjalanan panjang.
Ia menekankan bahwa setiap fase kehidupan memerlukan persiapan yang berbeda, baik untuk kehidupan di dunia, alam barzah, maupun di Padang Mahsyar. Oleh karena itu, kegiatan keagamaan seperti Tahlil Akbar dinilai penting sebagai pengingat agar umat senantiasa memperbanyak amal saleh.
Menurutnya, momentum menyambut Ramadan tidak hanya diisi dengan perayaan lahiriah, tetapi juga dengan penguatan kesadaran rohani. Melalui doa bersama di pemakaman, jamaah diajak menata niat, memperbaiki diri, serta menyadari bahwa usia memiliki batas yang tidak diketahui siapa pun.
Tahlil Akbar ini tidak hanya menjadi sarana mengirimkan doa bagi mereka yang telah berpulang, tetapi juga sebagai media introspeksi dan penguatan spiritual masyarakat menjelang bulan suci. (adv)














































