KUTIM – Penampilan perdana Marching Band Waditra Prima Sangatta (WPS) dalam gelaran Young Voice Concert mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Konser yang digelar di GOR Kudungga, Senin (15/12/2025) malam, menjadi penanda bahwa remaja Kutai Timur (Kutim) mampu menyajikan pertunjukan seni dengan konsep konser yang matang dan berstandar nasional.
Untuk pertama kalinya, Marching Band WPS tampil dalam format konser penuh, sebuah pendekatan yang berbeda dari penampilan marching band pada umumnya. Inovasi tersebut dinilai berhasil menghadirkan pengalaman artistik yang kuat dan meninggalkan kesan mendalam bagi para penonton.
Kepala Pelatih Marching Band WPS, Hendri Sulistyo, mengungkapkan bahwa keberhasilan konser ini tidak terlepas dari proses persiapan yang penuh tantangan. Ia mengakui bahwa hingga menjelang hari pelaksanaan, tim masih melakukan berbagai penyesuaian demi memastikan pertunjukan berjalan sesuai konsep yang direncanakan.
“Jujur ga nyangka. Sampai di detik terakhir kemarin masih banyak mikirin gimana caranya supaya konser ini sukses. Alhamdulillah, rombak sana, rombak sini, akhirnya bisa kejadian sesuai harapan,” ujar Hendri.
Ia menjelaskan, ide penyelenggaraan konser berasal dari pimpinan yayasan, Ifan Fanani, yang memberikan dorongan sekaligus tantangan kepada tim pelatih. Tantangan tersebut justru memacu kreativitas dan inovasi dalam mengemas penampilan marching band menjadi sebuah pertunjukan konser yang utuh.
“Pecut-pecut dari pimpinan itu cukup memancing kami untuk membuat kreativitas yang lebih baik,” tambahnya.
Dari sisi persiapan, Hendri menyebut latihan intensif khusus konser dilakukan selama kurang lebih dua bulan. Namun, secara keseluruhan proses pematangan kemampuan dan konsep telah berlangsung selama empat hingga lima bulan, mengingat sebelumnya tim telah memiliki agenda latihan rutin yang kemudian diarahkan untuk kebutuhan konser.
Usai penampilan, rasa syukur menjadi perasaan yang paling dominan dirasakan oleh seluruh tim. Hendri menegaskan bahwa keberhasilan ini bukanlah titik akhir, melainkan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas dan melahirkan karya seni yang lebih baik ke depannya.
Sementara itu, Ketua Yayasan YPPSB, Ifan Fanani, menilai konser tersebut sebagai bukti nyata bahwa remaja Kutai Timur memiliki kapasitas untuk menghadirkan pertunjukan seni yang selama ini kerap diasosiasikan dengan kota-kota besar.
“Konser malam ini adalah pembuktian dari anak-anak kita, remaja kita di Kutai Timur, bahwa mereka bisa menghadirkan sebuah pertunjukan yang kelasnya adalah konser. Ini sesuatu yang belum pernah ada di Kutim,” ungkapnya.
Apresiasi juga datang dari Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, yang turut menyaksikan langsung pertunjukan tersebut. Ia memberikan testimoni bahwa atmosfer konser yang ditampilkan mampu menyamai kualitas pertunjukan di pusat-pusat seni nasional.
“Saya jujur merasa tidak di Sangatta. Serasa sedang menonton konser di Balai Sarbini. Ini luar biasa,” ujar Mahyunadi.
Ke depan, Ifan Fanani berharap konser serupa dapat diselenggarakan secara berkelanjutan dan menjadi standar baru bagi pengembangan seni pertunjukan di Kutai Timur. Ia menegaskan bahwa keterbatasan wilayah tidak seharusnya membatasi lahirnya karya-karya besar dari generasi muda daerah.
Keberhasilan konser perdana Marching Band Waditra Prima Sangatta ini menjadi penegasan akan besarnya potensi seni dan kreativitas remaja Kutim. Dengan dukungan yayasan, tim pelatih, serta dedikasi para pemain, pertunjukan ini tidak hanya menjadi tontonan semata, tetapi juga tonggak penting dalam perjalanan seni pertunjukan daerah menuju panggung yang lebih luas. (adv)













































