KUTIM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat ketahanan pangan dengan menyiapkan lahan seluas tiga hektare untuk pembangunan Gudang Perum Bulog. Lahan yang berlokasi di kawasan Jalan Soekarno-Hatta tersebut akan diserahkan kepada Bulog melalui mekanisme hibah dan dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung sistem logistik pangan daerah.
Pelaksana Tugas Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabupaten Kutim, Trisno, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi telah melalui pertimbangan matang. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki akses yang baik ke berbagai fasilitas vital dan didukung infrastruktur dasar yang memadai.
“Lahan sudah kami siapkan dan lokasinya sangat strategis, dekat dengan pusat pemerintahan, fasilitas kesehatan, pelabuhan, hingga bandara. Infrastruktur pendukungnya juga tersedia. Ini merupakan bentuk komitmen kami dalam memperkuat sistem pangan di Kutai Timur,” ujar Trisno saat dikonfirmasi, belum lama ini.
Secara geografis, lokasi lahan berada sekitar 5,6 kilometer dari pusat pemerintahan daerah serta markas kepolisian dan TNI. Akses menuju RSUD Kudungga dapat ditempuh dalam jarak kurang lebih tiga kilometer, sementara pusat Kota Sangatta berjarak sekitar delapan kilometer. Pelabuhan Sangatta di Kenyamukan dapat dijangkau dalam radius 12 kilometer, dan Bandara Tanjung Bara sekitar tujuh kilometer dari lokasi.
Selain unggul dari sisi aksesibilitas, lahan tersebut telah dilengkapi jaringan listrik dan air bersih. Kontur tanah yang relatif datar juga dinilai memudahkan proses pembangunan karena tidak membutuhkan pematangan lahan yang kompleks. Kondisi ini menjadikan kawasan tersebut siap digunakan sebagai simpul logistik pangan.
Trisno menegaskan bahwa pembangunan gudang Bulog tidak semata-mata berorientasi pada pembangunan fisik, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperbaiki rantai pasok pangan. Selama ini, Kutai Timur masih bergantung pada pasokan beras dari luar daerah, meskipun memiliki potensi wilayah yang sangat besar.
Ia memaparkan bahwa Kutim memiliki luas wilayah sekitar 3,5 juta hektare, dengan alokasi lahan pertanian dan ketahanan pangan dalam RTRW mencapai 138.341 hektare. Pemerintah daerah juga tengah mendorong program cetak sawah seluas 100 ribu hektare pada periode 2025–2029. Namun demikian, potensi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam capaian produksi.
“Potensi kita besar, tetapi realisasi produksinya masih rendah. Saat ini lahan pertanian produktif baru sekitar 2.613 hektare dengan produksi beras sekitar 16.963 ton per tahun. Sementara kebutuhan masyarakat mencapai 41.070 ton, sehingga masih terjadi defisit sekitar 59 persen. Ini menjadi perhatian serius,” jelasnya.
Dalam konteks tersebut, keberadaan gudang Bulog diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga sebagai titik awal penguatan tata kelola cadangan pangan serta stabilisasi pasokan secara berkelanjutan.
Trisno menambahkan, Pemkab Kutim telah melakukan audiensi dengan Perum Bulog terkait rencana pembangunan gudang tersebut pada Kamis, 11 Desember. Kutai Timur pun tercatat sebagai salah satu daerah yang masuk dalam program pembangunan 100 gudang Bulog secara nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo mulai tahun 2026. Di Kalimantan Timur, hanya dua daerah yang terpilih dalam program tersebut, yakni Bontang dan Kutai Timur.
Dengan langkah ini, pemerintah daerah berharap Kutai Timur tidak lagi hanya berperan sebagai wilayah distribusi pangan, melainkan mampu bergerak menuju kemandirian pangan.
“Kami tidak ingin Kutim hanya menjadi daerah distribusi. Target kami adalah mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Pembangunan gudang Bulog ini menjadi langkah awal ke arah itu,” pungkas Trisno. (adv)













































