Samarinda – Duta Bahasa merupakan sebuah ajang pemilihan figur generasi muda yang nantinya mengkampanyekan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pemilihan Duta Bahasa dilaksanakan di tingkat provinsi dan kemudian dilaksanakan pada tingkat nasional. Setiap provinsi mengirimkan pesertanya ke tingkat nasional dari hasil pemilihan di tingkat provinsi.
Ada beberapa penilaian yang harus dilalui oleh peserta yakni, kecakapan berbahasa Indonesia, wawasan kebangsaan, Teknik wicara publik, kesenian dan kebudayaan serta aspek etika, perilaku selama mengikuti proses pemilihan.
Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) rutin melaksanakan kegiatan Pemilihan Duta Bahasa Kaltim dan Kaltara. Menurut Kepala Kantor Bahasa Kalltim, Halimi Adibrata, ajang tersebut dilaksanakan dengan misi untuk melahirkan generasi muda yang mampu memantik peran dan memantapkan fungsi bahasa Indonesia guna memperkuat jati diri dan daya saing bangsa.
“Tujuannya untuk mencari dan menggali potensi generasi muda yang memiliki integritas sebagai mitra strategis Kantor Bahasa dalam memartabatkan bahasa negara dan melestarikan bahasa daerah,” jelasnya.
Pemilihan ini melalui beberapa tahap yakni, pendaftaran peserta yang telah dimulai sejak bulan April 2022 lalu hingga 10 Juni 2022, seleksi berkas sejak 13 hingga 17 Juni 2022, pengumuman finalis, pembekalan selama dua hari sejak 24 hingga 25 Juni 2022, dan akhirnya penganugerahan pada tanggal 1 Juli 2022 Hotel Grand Victoria Jl. Ruhui Rahayu, Samarinda.
Program studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Prodi PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mulawarman (Unmul) mendelegasikan dua orang peserta yakni Muhammad Febrian Pramudipta dan Tiffanisia Ping.

Menurut pendamping peserta Prodi PGSD Unmul, Hety Diana Septika, peserta yang dikirim pada ajang tersebut telah melalui tahapan seleksi internal dan disertai pembekalan.
“Kali ini Tifanisia Ping berhasil meraih juara peserta putri pemenang pertama, sekaligus sebagai pemenang favorit putri,” ungkap Hety.
Ia berharap, Prodi PGSD tidak hanya mencetak calon guru yang berkarakter unggul dalam Pendidikan namun dapat mengembangkan diri dalam bidang lainnya.
“Kami berharap Prodi PGSD mampu mencetak Agent of change untuk masyarakat di lingkungan sekolah dasar khususnya, dimana hendaknya bersungguh-sungguh dalam mencari dan mengamalkan ilmu ke-PGSD-annya agar nantinya ketika sudah lulus, ilmu tersebut dapat diaplikasikan,” harapnya.
Selain berdoa, lanjut Hety, peserta juga dituntut menjaga kedisiplinan, kerjakeras, mampu mengukur kemampuan diri ada dimana kemudian memposisikan diri.
“Selain itu juga harus mengembangkan diri dengan mengasah keterampilan menulis karya ilmiah-esay dengan melihat isu-isu kebahasaan saat ini dikalangan anak muda zaman now,” lanjutnya.
Pewarta Audric














































