KUTIM – Upaya penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal terus dilakukan Kaltim Prima Coal (KPC) melalui program pemberdayaan masyarakat. Melalui Departemen Community Empowerment (CE), KPC menyelenggarakan pelatihan peningkatan keterampilan kerajinan manik-manik bagi Kelompok Tiga Tawai Rindang Benua, Sangatta Selatan, sebagai bagian dari strategi mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Kegiatan yang melibatkan unit Local Business Development (LBD), Conservation & Agribusiness Development (CAD), serta Bengalon Community Relation Development (BCRD) ini mengusung tema “Menuju Produk Kreatif, Mandiri, dan Bernilai Ekonomis”. Program tersebut sejalan dengan arah pembangunan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang menitikberatkan pada penguatan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal, dan pembangunan berkelanjutan hingga tingkat desa.
Kepala Dusun Rindang Benua, Sekimin, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan yang menyasar para ibu rumah tangga di wilayahnya. Ia menilai kerajinan manik-manik sebagai warisan budaya Dayak yang tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga peluang ekonomi yang menjanjikan.
“Kerajinan manik-manik merupakan identitas budaya yang bisa dikembangkan menjadi produk bernilai jual. Kami berharap pelatihan ini berkelanjutan dan benar-benar berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat,” ujarnya.
Pelatihan berlangsung selama dua hari, Senin hingga Selasa (2–3 Februari 2026), dengan menghadirkan narasumber berpengalaman di bidang kerajinan dan usaha kreatif. Kartini, pemilik usaha suvenir Kalimantan Pinkdau Bengalon, memberikan materi praktik pembuatan manik-manik. Sementara itu, Henny Victoria, owner Otty Homemade Sangatta Utara, membawakan materi inovasi dan pengembangan produk. Materi penguatan usaha melalui perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) disampaikan oleh Lucy Dwi Agustin, owner Manna Banana sekaligus Manager Olsabara.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah perwakilan KPC, di antaranya Superintendent LBD KPC Faizal yang mewakili Act. Manager CE Felly Lung, Superintendent Community Development Naufal Fadhil, serta jajaran LBD dan CAD, bersama puluhan anggota Kelompok Tiga Tawai Dusun Rindang Benua.
Secara terpisah, Superintendent LBD KPC, Faizal, menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mendorong kemandirian desa, khususnya di wilayah ring 1 operasional perusahaan.
“Kami ingin kehadiran KPC memberikan manfaat berkelanjutan, tidak hanya selama masa operasional tambang, tetapi juga hingga pascatambang. Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat mampu menghasilkan produk manik-manik yang bernilai jual dan berdaya saing. Olsabara juga kami dorong untuk mendampingi pemasaran produk kelompok,” jelasnya.
Melalui penguatan keterampilan dan pemanfaatan potensi lokal, program ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif desa sekaligus mendukung terwujudnya masyarakat Kutim yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing. (adv)














































