Samarinda – Budaya bisa tergerus dengan modernisasi, sehingga membutuhkan perhatian intensif serta perlu dilakukan pelestarian. Tak terkecuali Taman Budaya dan Museum Kalimantan Timur (Kaltim).
Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim, Ananda Emira Moeis mengatakan salah satu upaya bisa dilakukan yakni revitalisasi. Hal ini bertujuan menggalakkan kembali budaya nasional dan tradisi yang hampir punah di Benua Etam.
Tidak ada satu tempat pun yang dinilai representatif digunakan menggelar acara-acara bertajuk seni budaya. Sementara, Bangsa Indonesia tidak boleh meninggalkan dan melupakan sejarah, terlebih negara berlambang merah putih ini memiliki beragam kebudayaan.
“Saya sangat mendukung dilakukannya revitalisasi, kita tidak boleh meninggalkan jati diri kita yang dimulai dari budaya,” tuturnya beberapa waktu lalu.
Kata dia, banyak wisatawan dari luar yang berkunjung ke Taman Budaya dan Museum Kaltim ketika libur. Sehingga para pengunjung harus dibuat nyaman, sekaligus belajar dan mengetahui sejarah dan budaya Kaltim.
“Tidak hanya melestarikan tetapi mereka juga menjaga seni budaya yang ada,” katanya.
Lebih jauh, politisi Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDI-Perjuangan) menuturkan Pemerintah Pusat menggelontorkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk revitalisasi sebesar Rp6 Miliar.
Ia berharap anggaran yang dikucurkan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menghidupkan kembali Taman Budaya dan Museum di Benua Etam. Agar perekonomian pasca pandemi Covid-19 bisa segera pulih dan masyarakat serta pecinta seni budaya dapat berkarya lagi.
“Saya harap anggaran yang ada dimanfaatkan sebaik mungkin, pengunjung pun pastinya bakal ramai kalau merasa nyaman. Apalagi Kaltim sebagai penopang Indonesia,” sebutnya.
Lanjut dia, Pemerintah Pusat sudah memberikan dana, artinya mereka mendukung peningkatan pengembangan Taman Budaya dan Museum yang ada. Melalui perbaikan-perbaikan fasilitas seni budaya mampu menciptakan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal.
“Wadah kesenian, kebudayaan hingga sejarah memang sangat perlu perhatian khusus. Jadi warga bisa merasakan kehadirannya,” ujarnya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Nanda ini, di tengah era digital banyak generasi milenial. Pelaku budaya diharuskan bisa terus melestarikan budaya lokal dengan diperkenalkan sejak dini kepada masyarakat hingga anak-anak.
Untuk mendukung hal tersebut diperlukan tempat atau fasilitas yang memadai dan terkelola dengan baik. Melalui dana yang cukup besar revitalisasi bisa dilakukan dengan berbagai langkah, dari fisik hingga merenovasi sejumlah fasilitas lama yang kondisinya sudah tidak layak guna agar bisa kembali difungsikan secara optimal.
Dua ruang publik ke depannya diharapkan dapat lebih berdayaguna dengan menyesuaikan konsep yabg tepat di era modern.
Sebagai informasi, Taman Budaya Samarinda merupakan salah satu destinasi yang menarik cocok digunakan untuk pentas seni. Selain itu mempunyai banyak gedung-gedung unik di antaranya pepohonan rindang, rumput hijau juga beberapa jenis tanaman lainnya.
Taman budaya yang berada di Samarinda, Kecamatan Sungai Pinang itu salah satu aset dari negara yang harus dijaga. Ukirannya pun tidak sembarang dibuat tetapi juga memiliki arti yang mendalam, jenis motif warnanya bervariasi didominasi warna kuning, putih, hitam.
Sementara Museum salah satu objek wisata untuk mengenal sejarah dan kebudayaan Kota Tepian Samarinda, terletak di Taman Samarendah. Museum ini memiliki beragam koleksi unik dan gedung karya seni terbaik.
Museum itu harus ditingkatkan dengan menambah koleksi-koleksi seperti dokumen sejarah, patung-patung bersejarah, koleksi foto maupun benda bersejarah lainnya perlu dilengkapi. Hal ini akan menambah minat wisatawan bertandang.
Pewarta Mira














































