SAMARINDA — Kabut pagi masih enggan beranjak dari permukaan Sungai Mahakam ketika 112 jiwa berkumpul di GOR 27 September, Universitas Mulawarman. Jam baru menunjukkan pukul 06.00 WITA, Ahad, 27 September 2026, namun semangat di wajah-wajah mereka telah menyala lebih terang dari mentari yang baru saja mengintip dari ufuk timur Kalimantan.
Dua bus pariwisata berderu pelan membelah jalanan Samarinda yang masih sepi. Di dalamnya, tawa, sapaan hangat, dan sesekali nyanyian kecil mengiringi perjalanan menuju Muara Badak sebuah kecamatan pesisir yang kira-kira dua jam perjalanan dari jantung kota. Mereka adalah alumni Universitas Hasanuddin Makassar, yang kini telah menyebar dan membangun kehidupan di Bumi Etam. Mereka adalah IKA Unhas Samarinda.
Aroma Nasi Uduk dan Nyanyian yang Menggetarkan Dada
Sesampainya di Nicky Beach Muara Badak, angin laut yang lembut langsung menyambut. Dermaga kayu panjang menjorok ke perairan selat yang tenang, dengan rumah-rumah panggung beratap mengerucut khas pesisir Kalimantan berdiri gagah di kejauhan. Spanduk besar bertuliskan “Family Gathering IKA Unhas Samarinda” berkibar, seolah berteriak: “Selamat datang, kawan-kawan!”
Sarapan telah menanti nasi uduk ayam suir yang hangat, gurih, dan membangkitkan selera. Di tengah kehangatan suapan pertama, suara merdu seorang penyanyi mengalun lembut, membelai telinga dan hati. Lalu, tanpa aba-aba, seluruh peserta berdiri. Indonesia Raya berkumandang, disusul Mars Universitas Hasanuddin dua lagu yang dalam sekejap membawa mereka kembali ke masa-masa kampus di Tamalanrea, Makassar, puluhan tahun silam. Ada yang matanya berkaca-kaca. Ada yang tersenyum lebar. Ada yang saling berpandang dan berkata dalam hati, “Ternyata kita masih di sini. Masih bersama.”
Game, Tawa, dan Kisah-Kisah yang Tak Pernah Tua
Acara inti pun dimulai. Bukan seminar kaku, bukan rapat formal. Mereka bermain. Saling memperkenalkan diri karena tak semua saling kenal, meski berasal dari almamater yang sama. Ada yang dari angkatan 80-an, 90-an ada yang dari 2000-an. Dokter, pengusaha, PNS, wiraswasta semua lebur dalam satu identitas: Alumni Unhas.
Lalu datang sesi yang paling ditunggu: berbagi kisah masa kuliah.
“Dulu saya sering makan di kiosnya mace-mace, ubi gorengnya enak di bawah tangga gedung FIS” celetuk seorang alumni, disambut gelak tawa yang membahana.
“Saya ingat waktu pertama kali diospek sama senior, tapi kita ikhlas diperintah apa saja pasti nurut, ternyata dulu kita benci senior itu, sekarang baru paham apa arti dan makna yang kita dapatkan saat Ospek!” sahut yang lain.
Kisah-kisah itu mengalir deras tentang dosen-dosen legendaris, tentang teman-teman yang kini telah tiada, tentang perjuangan skripsi, tentang cinta pertama di kampus, tentang air mata dan tawa yang pernah mereka bagi di bawah pohon-pohon rindang kampus Unhas. Di dermaga kayu Muara Badak itu, waktu seolah berhenti. Mereka bukan lagi dokter spesialis, bukan lagi direktur perusahaan, bukan lagi pejabat. Mereka adalah anak-anak muda Tamalanrea yang sedang berkumpul di rumah bersama.

Bukan Sekadar Nostalgia: IDX Bawa Wawasan Investasi ke Pesisir
Namun, acara ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu. IKA Unhas Samarinda dengan cerdas menyisipkan sesi pengenalan bursa saham dan investasi yang disampaikan oleh perwakilan IDX (Indonesia Stock Exchange). Di tengah deburan ombak dan angin laut, para alumni diajak melek finansial bagaimana uang bisa bekerja untuk mereka, bagaimana investasi bisa menjadi warisan untuk anak-anak mereka.
“Reuni bukan hanya soal masa lalu, tapi juga soal masa depan,” kata ketua panitia Ichsan, begitu kira-kira semangat yang ingin disampaikan.
Acara ini juga mendapat dukungan dari sejumlah sponsor yang peduli pada silaturahmi alumni: RS Mulia Medika, Travel Arrehlah Haji & Umrah, dan tentu saja IDX.
Pesan Sang Ketua: Penguatan Internal, Silaturahmi yang Tak Putus
Di penghujung acara, dr. Andi Satya Adi Saputra, Sp.OG., M.Kes., Ketua IKA Unhas Samarinda, naik ke panggung sederhana di dermaga. Suaranya tenang namun tegas, matanya menyapu satu per satu wajah para alumni yang hadir.
“Acara ini kami selenggarakan untuk penguatan internal IKA Unhas,” ujarnya. “Tapi lebih dari itu, ini adalah tentang menyambung silaturahmi sesama pengurus, sesama alumni, dan sesama keluarga besar Universitas Hasanuddin. Di mana pun kita berada, di Samarinda ini, kita adalah rumah bagi satu sama lain.”
Tepuk tangan gemuruh menyambut. Bukan tepuk tangan formal, tapi tepuk tangan dari hati 112 orang yang hari itu merasa sedikit lebih dekat dengan akar mereka, sedikit lebih dekat dengan sesama, dan sedikit lebih dekat dengan diri mereka sendiri yang pernah muda, pernah berjuang, dan pernah bermimpi di kampus merah kebanggaan Sulawesi Selatan.
Mentari mulai condong ke barat ketika dua bus itu kembali melaju menuju Samarinda. Di dalamnya, beberapa orang tertidur lelah namun bahagia. Beberapa lainnya masih asyik bercerita, belum puas. Di luar jendela, pemandangan Muara Badak perlahan menjauh namun kenangan hari itu, seperti ombak yang tak pernah berhenti menghantam pantai, akan terus kembali, lagi dan lagi, dalam ingatan mereka yang hadir.
IKA Unhas Samarinda telah membuktikan bahwa silaturahmi bukan sekadar kata di undangan. Ia adalah napas, adalah tawa, adalah air mata haru, dan adalah janji bahwa dari almamater yang sama, untuk Samarinda yang lebih baik seperti tertulis di spanduk hari itu bukanlah slogan kosong. Ia adalah ikrar yang diucapkan di atas dermaga kayu, disaksikan ombak Muara Badak, dan akan diingat selamanya. (chai)













































