KUTIM – Keberadaan angkutan kota (angkot) di Sangatta perlahan hilang dari jalan raya, terseret arus dominasi kendaraan pribadi yang semakin tak terbendung.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kutai Timur (Kutim) tidak menampik gejala ini. Kepala Seksi Lalu Lintas Dishub Kutim, Zulkarnain, menyampaikan gambaran situasi yang cukup suram.
“Angkot di sini hampir punah. Masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada angkutan umum,” katanya, menegaskan kondisi yang selama ini hanya menjadi pembicaraan di lapangan.
Meski jumlah armada terus menipis, sebagian pelajar masih bergantung pada angkot. Beberapa sekolah menerapkan larangan membawa kendaraan pribadi, sehingga angkot tetap menjadi moda yang dibutuhkan.
Namun tanpa perbaikan layanan, peremajaan armada, maupun dukungan kebijakan, keberlangsungan angkot makin tidak pasti. Di sisi lain, masyarakat terus didorong membeli kendaraan pribadi melalui skema kredit yang semakin mudah.
Zulkarnain menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), antrean panjang di SPBU, serta ketatnya persaingan dengan moda transportasi lain sebagai tekanan berat bagi sopir angkot.
“BBM naik, antrean panjang, kendaraan pribadi makin mudah dibeli. Belum lagi hadirnya ojek online. Masyarakat akhirnya malas menggunakan angkot,” jelasnya.
Namun persoalan ini tidak berhenti pada BBM atau ojek online. Minimnya perhatian pemerintah terhadap transportasi publik, ketiadaan insentif bagi pengusaha angkot, serta kebijakan trayek yang stagnan ikut mempercepat keruntuhan layanan angkutan umum.
Jika tren ini terus berlanjut, Sangatta terancam menjadi kota tanpa transportasi publik memadai. Dampaknya bukan hanya mobilitas yang semakin mahal, tetapi juga meningkatnya kemacetan, polusi, dan ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi.
Angkot yang dulu menjadi urat nadi mobilitas para pekerja dan pelajar kini berada di ambang kepunahan—dan hingga kini, belum ada langkah korektif yang benar-benar terlihat dari pemerintah. (adv)














































