Kutai Kartanegara – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah mengambil langkah serius dalam penanganan stunting dengan pembentukan Tim Pendamping Keluarga (TPK) sebanyak 477 tim yang tersebar di seluruh wilayah Kukar.
Setiap tim terdiri dari tiga orang, total 1.431 orang, yang bertugas menyosialisasikan dan mendampingi masyarakat yang berisiko mengalami stunting, seperti calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga yang memiliki balita.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menurunkan angka stunting dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp358 miliar pada tahun 2024.
Dana tersebut diharapkan dapat membantu dalam menurunkan angka kemiskinan dan mempercepat penurunan stunting.
Wakil Bupati Kutai Kartanegara, Rendi Solihin, menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk mencapai target Kukar bebas stunting pada tahun 2024.
“Ini sejarah. Sehingga, tidak ada alasan lagi bahwa Kabupaten Kutai Kartanegara tidak bisa menurunkan angka stunting dengan maskimal di tahun depan,” ujar Rendi Solihin.
Rendi Solihin juga menegaskan bahwa penanganan stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara telah berjalan maksimal, dengan penurunan kasus stunting sebesar 14 persen pada tahun 2022 dan target penurunan 1,09 persen pada tahun ini.
Pemerintah daerah menargetkan Kukar bebas stunting pada tahun 2024 mendatang.
Keberhasilan penanganan stunting di Kukar disebutkan berkat kerja keras lintas sektor, melibatkan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Pertanian.
“Melalui kolaborasi dan gotong royong seluruh pihak, hasilnya penanganan stunting positif. Terjadi penurunan yang signifikan terhadap angka stunting di Kukar,” imbuhnya.
Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang dibentuk oleh Pemkab Kukar terdiri dari 477 tim yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.
Setiap tim terdiri dari tiga orang, yaitu bidan, kader pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), dan kader keluarga berencana (KB), dengan total 1.431 orang.
Tugas utama TPK adalah mendampingi calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga yang memiliki balita, serta memberikan pengarahan agar anak-anak mereka tidak mengalami stunting, termasuk mengonsumsi makanan bergizi.














































