SAMARINDA – Wali Kota Samarinda, Dr. H. Andi Harun, menyoroti pentingnya kepemimpinan yang kuat dan budaya komunikasi terbuka dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber pada Seminar Keperawatan RSUD Inche Abdoel Moeis bertema Leadership, Manajemen Konflik dan Berpikir Kritis yang digelar di Ruang Arutala Bapperida Samarinda, Minggu (24/5/2026).
Dalam pemaparannya, Andi Harun menjelaskan bahwa konflik di lingkungan rumah sakit tidak hanya dipengaruhi persoalan teknis pelayanan medis, tetapi juga dipicu lemahnya kepemimpinan, budaya organisasi yang feodal, serta komunikasi internal yang tidak berjalan sehat. Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan dan keselamatan pasien.
Ia menilai budaya senioritas yang terlalu kuat sering membuat tenaga kesehatan maupun staf enggan menyampaikan kritik atau masukan kepada pimpinan. Padahal, keterbukaan komunikasi dinilai menjadi bagian penting dalam menciptakan tata kelola rumah sakit yang profesional dan responsif.
Kegiatan seminar turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda dr. Ismed Kusasih, Direktur RSUD IA Moeis dr. Osa Rafshodia, serta Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Kota Samarinda, Syaparuddin.
Dalam kesempatan itu, Andi Harun juga menyoroti pentingnya membangun speak up culture dan psychological safety di lingkungan rumah sakit maupun puskesmas. Ia menegaskan tenaga kesehatan harus memiliki rasa aman untuk menyampaikan persoalan, laporan, maupun kritik tanpa takut mendapatkan tekanan atau sanksi.
Menurutnya, rumah sakit modern saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari tekanan pelayanan publik, perkembangan media sosial, hingga meningkatnya risiko kelelahan kerja atau burnout tenaga kesehatan pascapandemi.
Ia juga mengutip sejumlah penelitian internasional yang menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat memiliki hubungan erat dengan peningkatan keselamatan pasien dan kualitas pelayanan kesehatan. Sebaliknya, lemahnya tata kelola organisasi dapat memicu konflik berkepanjangan yang mengganggu pelayanan publik.
Selain membahas aspek kepemimpinan, Andi Harun menekankan pentingnya penerapan good governance dalam pengelolaan fasilitas kesehatan. Ia mendorong rumah sakit membangun sistem penyelesaian konflik yang jelas, terukur, dan melibatkan seluruh unsur organisasi agar tercipta rasa memiliki terhadap sistem yang dibangun bersama.
Di akhir pemaparannya, Andi Harun mengingatkan bahwa keberhasilan organisasi tidak dapat dicapai secara individual. Menurutnya, dibutuhkan kerja sama, komunikasi sehat, dan kolaborasi seluruh elemen organisasi untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang profesional dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. (adv)














































