Samarinda – Program Studi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Sospol) Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda mengadakan diskusi ilmiah dan kuliah tamu bertajuk, Jurnalisme, Diplomasi dan Komunikasi Publik Internasional di Integrated Laboratory Unmul, Selasa (13/09/22).
Diskusi tersebut menghadirkan narasumber tamu, Wakil Pimpinan Redaksi CNN Indonesia, Revolusi Riza Zulverdi.
Revolusi mengatakan perkembangan teknologi komunikasi sangat pesat bisa dikatakan masyarakat hidup pada masyarakat informasi, komunikasi antar tempat, antar kota, antar negara, bahkan antara bangsa, dapat dilakukan dengan cepat dan secara langsung dengan menggunakan internet. Batas-batas teritorial, adat, dan ras, seperti hilang.
“Karenanya peranan komunikasi sangatlah penting. Internet jika diolah dengan proses komunikasi yang benar dan tepat, akan menghasilkan suatu produk yang sangat efektif dalam menjangkau khalayak,” ujar Revo.
Ia mengaku terjadi perubahan yang sangat signifikan, maka akan banyak hal yang berubah, termasuk relasi sosial, ekonomi, politik, dan kemasyarakatan. Perubahan-perubahan dalam masyarakat ini perlu diantisipasi dengan memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat.
“Perubahan ini akan menimbulkan efek, baik negatif maupun positif, perlu kajian dan disebarluaskan agar hasil-hasil pemikiran mahasiswa komunikasi Internasional dapat dijadikan bahan pelajaran bagi kepentingan masyarakat luas,” tambahnya.
Dalam perkembangannya, disiplin komunikasi internasional sering dipraktikkan dengan menggunakan empat pendekatan dominan, yaitu pendekatan idealistic humanistic, kepengikutan politik baru, informasi sebagai kekuatan ekonomi, dan kekuatan politik.
“komunikasi internasional terkadang dijadikan alat untuk memperkuat hegemoni suatu negara atas negara lain atau kawasan lain,” tambahnya.
Koordinator program studi (Prodi) Hubungan Internasional, Rahmah Daniah, mengatakan kegiatan tersebut untuk melihat hubungan antara media dan diplomasi, serta pentingnya media massa sebagai alat edukasi dan informasi.
“Fungsi tersebut harus disosialisasikan ke mahasiswa agar mengetahui dengan baik, mampu memilah informasi dengan baik dan benar,” tuturnya.
Ia juga menuturkan, kegiatan ini untuk menciptakan suasana akademik, dengan menghadirkan praktisi. Juga bagian dari salah satu mata kuliah di prodi Hubungan Internasional.
Rahmah juga berharap kegiatan tersebut dapat berlangsung secara kontinyu, sehingga mahasiswa mengetahui bagaimana diplomasi dari praktisi, dan pandangan terkait teori yang didapat bisa diterapkan di dunia praktis.
“Ini masanya masyarakat dapat menfilter banyaknya pemberitaan dan mengadopsi bahwa media massa itu bagian dari diplomasi,” tuturnya.
Menurutnya dalam perspektif jurnalistik lazim dilakukan melalu saluran media berupa pertukaran informasi tentang peristiwa internasional untuk mempengaruhi opini publik internasional.
“Dari diplomasi dapat juga menemukan peluang bisnis, atau mendorong upaya kerjasama. Maka peran media massa disini sangat besar pengaruhnya,” tambahnya.
Sementara itu, mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Unmul, Zalfa, merasa bangga dapat mengikuti kegiatan tersebut, pasalnya narasumber memberikan literasi terkait komunikasi jurnalisme internasional yang menurutnya sangat penting bagi mahasiswa jurusan HI.
“Tadi disampaikan juga bagaimana memilah berita yang benar dan yang tidak, ini sangat mengedukasi sehingga ke depannya kami dapat memfilter informasi,” ujar Zalfa usai mengikuti kuliah tamu.
Ia juga berharap agar pihak prodi lebih sering membuat acara serupa sehingga dirinya dapat mendapatkan tambahan informasi dan ilmu.
“Diplomasi secara soft power dan hard power yang disampaikan tadi sangat menarik. Kegiatan ini harus terus berlanjut sehingga mahasiswa bisa lebih aware lah,” tutupnya.
Pewarta Audric













































