“ it’s not the strongest of the species that survives, not the most intelligent, but the one most responsive to changes” by Charles Darwin
Samarinda, linimasa.co – Berbicara tentang sejarah merupakan hal yang sangat menarik, terutama hal-hal yang jarang dijumpai saat ini. Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman menggelar Seminar Nasional Pendidikan Sejarah dengan tema Pembelajaran Sejarah dan Penguatan Kebangsaan di Era Society 5.0. Seminar nasional ini diadakan secara daring dengan menghadirkan dua narasumber. Kamis (28/10/2021).
Seminar ini menghadirkan Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia, Wawan Darmawan. Materi seminar yang dibawakan berjudul Kreativitas dalam pengaturan nilai kebangsaan di era Society 5.0.
“Paul Virilio mengatakan proses percepatan kultural yang ditopang oleh kehadiran komputerisasi secara signifikan menimbulkan dampak budaya panik, dromologi citra, fenomena pemujaan citra dan fenomena histeria massa,” ungkapnya menyampaikan materi.
Selain itu lanjutnya, Sejarah dapat membangun dan mengembangkan memori kolektif, pengalaman kolektif yang memberikan dasar kuat untuk mengenal keberadaan bangsa dan jati diri bangsa.
“Salah satu tokoh penggerak kebangsaan, Arnold Toybee dengan gerakannya Creative Minority, Perkembangan digerakan oleh sebagian kecil dan massa meniru atau mengikutinya. Jika minorty menjadi lemah maka tantangan dari alam tidak dapat di jawab keruntuhan mulai tampak,” lanjutnya.
Kemerosotan dapat disebabkan minorty kehilangan daya menciptakannya serta kehilangan kewibawaannya maka mayority tidak lagi bersedia mengikuti minorty. Menjawab tantangan revolusi industri 4. dan socienty 5.0, dijabarkan menjadi Socienty 5.0 adalah Internet on thiyos, artifical intligence, big data, dan robot meningkatkan kualitas hidup. Kecakapan hidup abad 21 dikenal istilah 4c ( Creativity, Critical, Thingking, Communcation, Collaboration).
“Pelaku yang mencerminkan profil seperti rasa ingin tahu, inistiatif, kegigihan, mudah beradaptasi memiliki jiwa kepemimpinan, memiliki kepedulian sosial dan budaya masuk dalam kategori Penguatan kebangsaan,” tuturnya.
Sementara itu, pemateri kedua Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Tanjung Pura, Astrini Eka Putri, menggambarkan Transformasi pembelajaran sejarah melalui literasi budaya sebagai wujud inovasi di era socety 5.0 sebagai Tantangan Energing Skills sehingga perlu penerapan pengetahuan dan keterampilan inti untuk keseharian.
“Mesti paham literasi dasar dan kompetensi yang nanti bermuara ke Innovating Education dan Strengthening our Nation,” ujarnya.
Literasi dasar meliputi, Literasi Menelaah, Literasi Numerik, Literasi Keilmuan, Literasi ICT, Literasi finansial, Literasi budaya & Kewarganegaraan. Sementara untuk kompetensi meliputi berpikir kritis utuk penyelesaian masalah, Kreativitas, Komunikasi, Kolaborasi.
“Literasi Budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai Identitas bangsa,” jelasnya.
Menurutnya, Jika melihat dari fokus era society 5.0 yang mengedepankan konsep masyarakat yang berpusat pada manusia muda, literasi budaya tidak hanya sebagai wacana namun menjadi salah satu point penting. Kuatnya arus budaya global yang menggerus tatanan budaya lokal/nasional yang berdampak pada melunturnya identitas bangsa dikalangan generasi muda.
“Literasi budaya sangat penting karena sebagai media penghubung generasi terdahulu, sekarang, dan masa yang datang,” tuturnya menjelaskan.
Pembelajaran sejarah sangat berkaitan erat dengan kebudayaan, makna suatu kebudayaan tidak lagi hanya berorientasi pada nilai-niali kearifan semata,namun juga mempengaruhi dan merekontruksi nilai-nilai baru dalam konteks ruang dan waktu yang terus berkembang sesuai zaman. Untuk memahami sebuah kebudayaan dan identitas dirinya sebagai suatu bangsa.

Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman, Jamil menambahkan pada pembelajaran sejarah bukan hanya sekedar mengingat fakta sejarah, tapi peserta didik diajak untuk lebih mengenal bangsanya melalui sejarah untuk mempersiapkan diri sebagai generasi bangsa yang lebih bijak.
“Inovasi dalam pembelajaran sejarah dapat berbentuk pembelajaran, hasil dari memori, kognisi dan metakognisi, kemudian ada pengalaman belajar serta proses informasi dan refleksi,” ujar Jamil kepada awak linimasa.co
Secara khusus acara yang diikuti lebih dari 300 orang partisipan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada para peserta, terutama para pendidik dan penulis sejarah mengenai Strategi Pengembangan Pariwisata Sejarah/Sejarah Lokal dan Budaya.
Pewarta Axl Aldiansyah














































