SAMARINDA – Kota Samarinda mencatat capaian positif dalam bidang penanggulangan bencana dengan meraih nilai Indeks Ketahanan Daerah (IKD) tertinggi di Kalimantan Timur tahun 2025, yakni sebesar 0,86. Capaian tersebut diumumkan dalam Rapat Koordinasi BPBD se-Kalimantan Timur yang berlangsung pada 13 Mei 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan capaian tersebut menunjukkan tingginya kemampuan daerah dalam membangun sistem ketahanan bencana secara menyeluruh, mulai dari aspek mitigasi, kesiapsiagaan, hingga pemulihan pascabencana.
Menurutnya, penilaian IKD tidak hanya melihat tingkat ancaman bencana yang dimiliki suatu daerah, tetapi juga kemampuan pemerintah dalam mengelola risiko serta memperkuat sistem penanggulangan bencana.
“Yang dinilai bukan hanya tingkat ancaman bencananya, tetapi bagaimana kesiapan sistem pemerintah daerah dalam melakukan mitigasi, penanganan darurat, hingga pemulihan pascabencana,” ujar Suwarso, Jumat (22/5/2026).
Ia menjelaskan, capaian tersebut lahir dari konsistensi Pemerintah Kota Samarinda dalam memperkuat kebijakan kebencanaan, penguatan kelembagaan BPBD, koordinasi lintas sektor, hingga integrasi isu kebencanaan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah.
Selain itu, tingginya intensitas bencana banjir dan longsor di Samarinda disebut menjadi pemicu pemerintah untuk terus meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana, termasuk percepatan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir dan penguatan mitigasi di tingkat masyarakat.
Beberapa indikator yang dinilai menjadi kekuatan Samarinda dalam penilaian IKD meliputi penguatan kebijakan dan kelembagaan, pengkajian risiko dan perencanaan terpadu, pengembangan sistem informasi kebencanaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta sistem pemulihan pascabencana.
BPBD Samarinda juga menilai berbagai program yang dijalankan pemerintah kota turut mendukung capaian tersebut. Program dimaksud antara lain pembangunan dan normalisasi drainase, pengendalian banjir melalui kolam retensi dan penguatan sungai, penyusunan dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) dan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB), pelatihan relawan, simulasi kebencanaan, hingga edukasi sadar bencana kepada masyarakat.
Meski demikian, Suwarso menegaskan tantangan kebencanaan di Samarinda masih cukup besar seiring pertumbuhan kota, perubahan tata guna lahan, serta kondisi geografis yang memicu potensi banjir dan longsor di sejumlah kawasan.
Karena itu, BPBD Samarinda menilai penguatan mitigasi berbasis lingkungan, pengendalian tata ruang, rehabilitasi daerah aliran sungai, serta peningkatan kapasitas masyarakat hingga tingkat kelurahan perlu terus diperkuat.
Dengan capaian IKD tertinggi di Kalimantan Timur tersebut, Samarinda dinilai mampu menunjukkan bahwa daerah dengan tingkat risiko bencana tinggi tetap dapat menjadi daerah yang tangguh apabila memiliki sistem penanggulangan bencana yang terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan. (adv)














































