Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Langit dakwah Kalimantan Timur seakan kehilangan satu cahaya terbaiknya. Kabar wafatnya KH. Siswanto, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur, meninggalkan duka yang begitu mendalam, bukan hanya bagi keluarga besar Muhammadiyah, tetapi juga masyarakat luas yang mengenal beliau sebagai sosok ulama, pendidik, sekaligus ayah bagi banyak orang dalam perjuangan dakwah.
Di mata para kader dan jamaah, KH. Siswanto bukan sekadar pemimpin organisasi. Beliau adalah teladan hidup tentang kesederhanaan, keteguhan, dan pengabdian tanpa pamrih. Di tengah kesibukannya memimpin Muhammadiyah Kaltim, beliau tetap hadir sebagai sosok yang dekat dengan umat menyapa dengan kelembutan, menasihati dengan keteduhan, dan mengajarkan nilai Islam dengan penuh kebijaksanaan.
Selama memimpin Muhammadiyah Kalimantan Timur, beliau dikenal berhasil menjaga semangat persatuan, memperkuat gerakan dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah Kaltim terus tumbuh menjadi organisasi yang aktif membangun peradaban, menghadirkan pendidikan yang berkemajuan, serta memperluas pelayanan umat hingga pelosok daerah. Namun lebih dari itu, warisan terbesar beliau bukan hanya pembangunan organisasi, melainkan ketulusan hati yang dirasakan langsung oleh setiap orang yang pernah dekat dengannya.
Banyak kader Muhammadiyah tak kuasa menahan air mata ketika mendengar kabar wafatnya. Sebab bagi mereka, KH. Siswanto adalah tempat bertanya, tempat mengadu, dan tempat belajar tentang arti istiqamah dalam perjuangan. Sosoknya yang teduh membuat banyak orang merasa kehilangan arah ketika beliau pergi. Tidak sedikit yang mengenang bagaimana beliau tetap tersenyum dan menguatkan orang lain, bahkan di tengah kondisi kesehatannya sendiri.
“Beliau tidak pernah lelah memikirkan umat,” ungkap Ketua Pemuda Muhammadiyah Kaltim, Adam Muhammad, dengan mata berkaca-kaca. Kalimat itu seolah menjadi gambaran utuh tentang hidup KH. Siswanto hidup yang dihabiskan untuk melayani, membimbing, dan menguatkan sesama.
Kini, suara ceramahnya mungkin telah berhenti, langkahnya mungkin tak lagi hadir di tengah-tengah jamaah, namun nilai-nilai perjuangan yang beliau tanamkan akan terus hidup dalam hati ribuan orang. Kepergian beliau menjadi pengingat bahwa seorang ulama sejati tidak hanya meninggalkan nama, tetapi juga meninggalkan jejak keteladanan yang sulit tergantikan.
Muhammadiyah Kalimantan Timur hari ini benar-benar kehilangan seorang nahkoda terbaiknya. Dan bagi banyak orang, wafatnya KH. Siswanto bukan hanya kehilangan seorang ketua, tetapi kehilangan seorang guru kehidupan.
Selamat jalan, KH. Siswanto. Terima kasih atas ilmu, ketulusan, dan pengabdian yang telah engkau berikan untuk umat dan daerah ini. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di surga terbaik bersama orang-orang saleh. Aamiin ya rabbal ‘alamin.














































