KUTIM – Gerakan literasi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menunjukkan perkembangan signifikan. Sebanyak 133 buku karya pelajar SD dan SMP dinyatakan lolos kurasi dan layak bersaing di tingkat nasional melalui program literasi kolaboratif Nyalanesia. Capaian ini menjadi indikator kuat meningkatnya kualitas literasi generasi muda di daerah.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan bahwa prestasi tersebut merupakan hasil dari pembukaan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk berkarya. Menurutnya, pemerintah daerah terus berkomitmen menumbuhkan ekosistem literasi yang kuat sebagai bagian dari upaya menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Prestasi dan pemikiran anak-anak akan berkembang apabila diberi ruang untuk berkreasi di bidang literasi,” ujar Ardiansyah.
Dari total karya yang lolos, terdapat 11.045 puisi dan 103 cerpen yang dihimpun melalui partisipasi ratusan sekolah di Kutim. Pemerintah daerah juga mencatat perkembangan pesat dalam berbagai bentuk literasi lainnya, termasuk literasi digital dan ekonomi kreatif.
Data Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Kutim menegaskan tren positif tersebut. Pada 2024, indeks pengembangan literasi masyarakat naik menjadi 74,54, meningkat tajam dari 58,08 pada tahun sebelumnya. Capaian ini menjadi salah satu lonjakan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
“Saya berterima kasih atas kolaborasi lintas dinas yang mampu mendorong peningkatan literasi di Kutai Timur,” tambah Ardiansyah.
Dari pihak Nyalanesia, Advisor Imam Subchan menilai Kutai Timur sebagai daerah dengan perkembangan paling menonjol dibandingkan wilayah pendampingan lainnya seperti Balikpapan dan Berau. Ia menyebut capaian Kutim—meliputi 93 buku tunggal sekolah, 42 buku kolaborasi, serta 187 website literasi sekolah—sebagai bukti bahwa ekosistem literasi di daerah tersebut tumbuh dengan sangat cepat.
“Capaian ini bukan sekadar angka, tetapi nafas baru bagi pendidikan literasi di Kutai Timur,” tegasnya.
Pendampingan program literasi oleh Nyalanesia di Kutim berlangsung sejak 27 Oktober hingga 8 Desember 2025, dan akan dilanjutkan hingga Maret 2026. Pemerintah daerah berharap capaian tersebut dapat menjadi fondasi kuat untuk peningkatan kompetensi literasi pelajar secara berkelanjutan. (adv)













































