CATATAN “Dari Teratai” ( 2 )
“Ingat Rahul”
Oleh Riski Maulana Perwira Atmaja
Saya menghuni ruang isolasi kamar Teratai 2 RSUD Ratu Aji Putri Botung (RAPB) Penajam. Bersih ruangannya. Kira-kira ukuran 8 x 6 meter. Pencahayaannya baik. Tidak pengap. Ada 6 bed. Tapi kosong semua kecuali yang saya tempati.
Saya di bed nomor 3. Dekat jendela. Di ruangan ada 2 televisi mungkin 23 inch. Ber AC, toiletnya 2 berhadapan. Pelayanannya baik. Pagi sekali ruangan sudah disteril, disapu dan dipel petugas. Pakai APD lengkap. Pikir saya astronot. Maklum, nyawa belum lengkap karena baru bangun tidur. Agak kaget.
Sekira pukul 6 pagi lebih 10 menit, perawat sudah disamping saya. Tekanan, oksigen dalam darah dan detak jantung dicek. Pakai alat. Namanya pulse oximeter, alat pengukur kadar oksigen dalam darah dan detak jantung. Caranya cukup memasukkan ibu jari ke semacam jepitan yang terkonek dengan detektor digitalnya. Tentu jepitanya tidak berasa. Beda dengan ibu jari dijepit pakai jepitan baju. Itu baru sakit.
Tekanan darah 110/80, dan kadar oksigen di angka 90. Setelahnya, lengan dicucuk jarum. Diambil 2 ampul untuk uji lab. Sekira jam 10 an, ada perawat lagi. Laki-laki. Tingginya 168 cm-an. Saya diswab PCR. Lewat hidung dan mulut. Yang dimasukan mulut seperti cotton but, korek telinga, bedanya lebih panjang. Sakit juga. Seperti dicekik. Lalu lewat dua lubang hidung. Lumayan sakit. Hasilnya tinggal menunggu. Semoga virus Covid 19 di badan saya sudah minggat. Kalau belum, ya, perang lagi di kamar isolasi. Tinggal kuat-kuatan jago siapa. Virusnya, atau malah saya yang babak belur.
Sebagian orang, saya yakin masih kurang nggeh dengan model pemeriksaan pasien Covid. Taunya awalnya di-rapid, setelah itu di-swab pertama. Lalu di-swab kedua. Sebatas ngono wae (gitu aja). Saya bukan dokter, perawat juga lain. Tapi kebetulan saya sedang mengalami. Saya banyak tanya dengan perawat. Tapi kalaupun keliru, maafkan aee.
Saya terangkan : Covid 19 dalam tubuh seseorang untuk bisa terdeteksi kalau mau cepat, di-rapid test. Sesuai kata. Rapid itu bahasa Inggris, artinya cepat. Rapid test = tes cepat. Tapi ini hanya deteksi awal saja. Tingkat akurasinya rendah. Biasa kalau Anda pernah di-tes rapid di kantor-kantor Anda, keterangannya reaktif dan non reaktif. Yang diambil darah dari lengan pakai suntikan itu lho. 60 menitan sudah keluar hasilnya. Atau rapid antibodi, ambil darahnya di ujung jari. Ada yang agak lebih akurat lagi. Yaitu rapid antigen. Seperti yang dilakukan ke saya di RS ABADI Samboja lalu. Ini juga disebut swab.
Aslinya itu istilah saja. Swab itu juga bahasa Inggris yang artinya mengepel. Maka prosesnya rapid antigen itu pakai alat seperti stik kecil 10 cm-an dimasukkan ke satu lubang hidung untuk menyeka lendir di rongga hidung bagian dalam. Hasilnya bisa diketahui 30 sampai 60 menit. Keterangannya Sars-Covid 19 Negatif atau Positif. Ini tingkat akurasinya kira-kira 70-75 persen. Kalau sudah dirawat di ruang isolasi seperti saya dan yang lain, barulah dilakukan tes PCR (Polymerase Chain Reaction), yakni jenis pemeriksaan untuk mengetahui pola genetik DNA dan RNA dari kuman maupun virus termasuk Sars-CoV-2.
Prosesnya ya di-swab juga, sama dengan antigen. Bedanya sampel lendirnya dari dua tempat. Lewat tenggorokan pakai stik, kemudian lewat dua lubang hidung juga dengan stik. Stiknya lebih dari satu dan bentuknya beda. Tingkat akurasinya 80 sampai 90 persen. PCR ini untuk tahu hasilnya, waktunya paling cepat satu hari. Kalau sampel yang mau diteliti banyak, maka bisa 2 sampai 7 hari. Itu makanya kenapa pasien Covid 19 yang dirawat itungannya 10 hari sampai 14 hari.
Bahkan kalau gejalanya berat bisa lebih lama. Berada di kamar isolasi, saya jadi ingat Rahul. Anda juga pasti belum lupa. Dia warga Desa Tengin Baru. Salah satu OTG Covid 19 yang diisolasi di RS Pratama Sepaku tahun lalu. Masih muda anaknya. Saya ingat betul. Ketika itu ramai pro kontra rumah sakit milik Pemkab PPU itu dijadikan tempat isolasi pasien Covid 19 yang OTG. Saya juga ikut kena getahnya. Ditentang sana sini. Dibully lewat medsos. Bahkan lisan. Di depan mata kepala pula. Bukan orang jauh. Tetangga sendiri.
Baca bagian satu disini
Beberapa hari Rahul diisolasi, saya di-gruduk salah satu ormas. Rumah jadi ramai. Nada suaranya sudah ada yang kurang enak didengar. Tapi saya maklumi saja. Mungkin kekhawatiran mereka berlebih. Geser dari rumah, mereka menuju teras rumah sakit. Sudah ribut. Sambil sebagian mereka mengintip ke dalam lewat pintu dan jendela. Tak lama, anggota Polsek dan Koramil datang. Persuasif menenangkan. Tapi tetap nadanya eyel-eyelan.
Saya ada disitu dan memilih tenang. Meski tatapan mata ke saya banyak sinisnya. Ketika diberi kesempatan bicara, baru saya ngomong. Membalikkan keadaannya ke mereka
“Bgaimana kalau yang OTG anakmu, adikmu, keluarga dekatmu? Kau diamkan di rumah, tapi tetangga semua menolak?”.
Seketika semua tak bersuara. Ujung-ujungnya pasti bingung juga, mentok-mentoknya ke pemerintah desa selaku satgas Covid 19 terdekat. Tak punya pilihan lain. Tak mungkin ditaruh di Sisipan–lokasi eks rencana pengembangan transmigrasi tapi gagal. Lokasinya di Sukaraja juga. Masuknya 3 sampai 5 kilo. Jalan batu. Licin. Tidak mungkin juga di UK 2–lokasi kerja PT.IHM, jauh. Siapa yang merawat. Mustahil juga ditaruh di rumah dinas bupati di Trunen.

Saat itu lagi sering tamu provinsi maupun pusat kunjungan IKN. Home base-nya ya disitu .Alhasil, yang demo bubar usai penjelas kami bertiga : pak Sekcam, Kapolsek, dan saya. Hari – hari Rahul dirawat, saya terus kena bully. Om Dedy, wakar RS Pratama juga. Kami dianggap pahlawan kesiangan. Apalagi cuma saya Kades yang muncul ketika Rahul diisolasi. Padahal dia bukan warga Sukaraja. Kalau mau tega, gampang sekali. Saya tinggal cuek. Tapi saya memilih manusiawi.
Saya tetap mikirkan jikalau ada efek negatifnya ke warga lingkungan terdekat RS Pratama. Maka saya terus pastikan kalau Rahul tidak kelayapan keluar kamar. Dikunci. Kalau butuh apa-apa telepon penjaga dan jaga jarak 5 meter. Tapi, Rahul benar-benar perlu dukungan waktu itu. Anda bayangkan, dia sedang terguncang. Tes daftar TNI di Balikpapan, tak disangka dia positif Covid 19. Maka gagal impiannya jadi Tentara. Kena Corona pula. Di Balikpapan tidak punya saudara. Dia indekost. Klontang-klantung di depan RS Siloam sebelum akhirnya dijemput ambulan desanya.
Apalagi kena Covid 19, pikiran dan mental seseorang ini tidak boleh drop. Seperti yang saya alami sekarang. Disamping itu saya dalam posisi ketempatan. Betul fasilitasnya milik pemkab, tapi lokasinya di desa yang saya pimpin. Maka harus bijak menyikapi. Rahul tetap kami support. Secara pribadi, Denok, kakak saya, juga support makanan dan vitamin. Istri saya, Selvi, juga beberapa kali membelikan makan minum untuk Rahul maupun Om Dedy, bahkan beberapa warga juga ikut support. Pak sekcam juga sama.
Lepas masa isolasi dan perawatan, Rahul diperbolehkan pulang. Saya dinas luar waktu itu. Melalui Om Dedy, dia titip salam ke saya. Om Dedy sampaikan : Rahul terimakasih untuk Pak Kades di depan–rumah saya persis di depan RS Pratama–. Tuhan yang balas”. Tutur Om Dedy menirukan omongan Rahul. Kejadiannya mirip. Rahul juga sendirian di ruangan. Tanpa TV, tanpa AC karena memang belum tersedia fasilitas itu disana. Air untuk mandi pun disuplai dari luar.
Sampai telat-telat. Perawatnya tidak standby. Hanya ada Om Dedy yang jaga di teras. Jaraknya dari ruangan Rahul 25 meter lebih. Dibatasi pintu kaca. Bisa bayangkan betapa kesepiannya Rahul waktu itu. Saya masih mending. Masih dengar suara perawat di sebelah. Full AC, air lancar dan bersih. Di ruang isolasi, perawatnya rupanya ada teman kuliah istri di Akper Pemprov Kaltim dulu. Ada juga saudara ipar kawan di Sepaku, si Samsul–kepala dusun di Desa Tengin Baru–. Kebetulan saudara Samsul juga penyintas (sebutan orang yang pernah positif Covid 19).
Asam garamnya dia sudah lebih dulu rasakan. Saya dapat tambahan support dan servis. Saya jadi merenung, mungkin ini bentuk balasan dari doanya Rahul. Tuhan itu memang adil : Niat baik dibalas baik juga. Saya diberikan kemudahan dan bantuan. Alhamdulillah, bersyukur sekali. Selama proses perawatan di ruang isolasi pikiran dan perasaan pasien Covid 19 memang harus dijaga. Wajib ceria, dan rileks. Tidak boleh sedikit pun tegang. Sebab rupanya pengaruhnya besar.
Kata para perawat “kalau tegang atau stres tekanan darah pasti naik”!. Benar sekali. Saya mengalami. Terus terang sedikit tegang. Kepikiran istri dan keluarga di rumah. Terutama orang tua. Terlebih istri. Sebab dia merasakan meriang. Saya berpikir, jangan-jangan?, Apa mungkin tertular melalui kentut. Memang, salah satu gejala yang saya alami, rutin buang angin. Bisa puluhan kali meski tak bisa menyium aromanya. Padahal kata istri, bau sekali. Tapi saya berpegang hasil swab antigen istri yang Negatif itu.
Sore ditensi, tekanan darah saya naik 140/100. Padahal paginya cuma 110/80. Infusan juga habis lebih cepat. Ini kantung ke empat. Oleh perawat disarankan tenang, sambil nonton video lucu-lucu. Dan disarankan kuat makan. Keluarga besar, istri, keponakan beberapa warga, dan sahabat saya rupanya memantau story wa. Semua kasih semangat. Terhibur juga. Di kamar isolasi sendirian, memang jenuh juga. Paling hiburannya handphone. Sahabat-sahabat saya yang di Penajam, Balikpapan, Solo, Bontang, Berau pada chat wa.
Macam-macam komennya. Ada yang nanya kabar : “Pak Kades gimana kondisinya?”, “Bro pikir + ya”, “Gentak makanan terus waaal”, ada juga yang kirim stiker lucu-lucu. Bahkan ada yang nyeleneh : “Brooo jangan sampai lupa bernapas”, sambil ada emot tertawa lebar. Saya balas dia : Teleeek!, Sambil pasang emot sarkastik. Lalu senyum-senyum sendiri. Saya paham. Mereka tentu menghibur. Ikut jaga supaya pikiran tidak stres dan ujung-ujungnya makin drop. Ya, saya tertawa sambil nahan sesak di dada untung dibantu oksigen dan injeksi pereda nyeri ulu hati. Haru campur sedih.
Pukul setengah 3 sore, badan mulai anget. Sakit tenggorokan makin terasa. Rasanya seperti nelan belasan jarum pentul. Hidung penciumannya hilang total. Saking mau lebih memastikan, waktu BAB saya masukkan kepala saya ke kloset duduk di wc. Saya cium BAB yang sedikit ampasnya itu. Tidak terasa sama sekali. Sempat muntah. Ada darahnya sedikit. Mungkin faktor tenggorokan yang sakit tadi. Lidah juga benar benar getas. Makan minum apa saja rasanya tidak ada. Bukan lagi hambar. Malah sudah ambyar. Saya dan pasien lain selama perawatan dijaga betul makannya. Diet menu TKTP (tinggi kalori tinggi protein). Pagi siang sore. Variatif menunya. Nasi putih, sayur bening, kadang lodeh. Lauknya ikan laut, kadang telur. Kemarin sempat rawon. Selingannya bubur kacang ijo. Cuci mulutnya jeruk kadang pisang. Dan penutupnya puding. Pokoknya pasien Covid 19 itu dibikin senang dan kenyang, walau pikiran dan perasaan di awang-awang (bersambung….)













































