Samboja, linimasa.co – Meski sempat tertunda, upacara dalam rangka Peringatan HUT PGRI ke-76 dan Hari Guru Nasional 2021 tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara berjalan dengan tertib. Upacara yang sejatinya dimulai pukul 08.00 harus diundur sampai pukul 09.30 akibat hujan yang mengguyur Kawasan Wisata Kaltim Park Kuala Samboja, Kecamatan Samboja, Jumat (26/11/2021).
Perjalanan dari Kecamatan Sebulu memakan waktu lima jam melalui darat, kendati demikian peserta yang berasal dari kecamatan ini, tetap bersemangat dan antusias menghadiri kegiatan tersebut. Ketua PGRI Kecamatan Sebulu, Subagiyati menuturkan, tim PGRI Kecamatan Sebulu mengutus 11 orang untuk mengikuti upacara peringatan Hari Guru Nasional di Kecamatan Samboja.
“Perjalanan cukup jauh, kurang lebih 5 jam kami diperjalanan, namun lelahpun hilang begitu sampai di Samboja. Upacaranya juga seru meski diguyur hujan, seluruh peserta tampil apik dan luar biasa semangat para guru,” tutur Subagiyati.
Seluruh peserta upacara yang berasal dari 18 kecamatan se-Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tetap antusias mengikuti rangkaian kegiatan sampai acara selesai.
Tema kegiatan kali ini, Bangkit Guruku, Maju Negeriku, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh tersebut diikuti para guru dari beberapa kecamatan se-Kukar.

Diawali dengan pengibaran bendera merah putih, dilanjutkan pembacaan Undang-Undang Dasar 1945, Kode Etik Guru Indonesia, Ikrar Guru Indonesia serta Sejarah singkat Persatuan Guru Republik Indonesia.
Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin saat membacakan sambutan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nadiem Anwar Makarim mengatakan, tahun lalu ialah tahun yang sulit bagi para tenaga pengajar dan pendidik, dimana di tengah pandemi covid-19 yang melanda Indonesia kegiatan belajar mengajar mengalami perubahan yang membuat para guru mesti mendatangi rumah-rumah pelajar, guna memastikan tidak ada pelajar yang ketinggalan pelajaran.
“Guru harus mempelajari teknologi yang belum pernah didapatan sebelumnya, harus mengikuti perkembangan zaman, mampu menyederhanakan kurikulum agar murid tidak belajar di bawah tekanan, membuat guru seluruh Indonesia menangis melihat murid yang semakin hari semakin bosan, kesepian, dan kehilangan disiplin,” Ucap Rendi bertindak selaku Pembina Upacara.
Menurut Menteri Nadiem, dalam sambutan yang dibacakan Rendi, hal tersebut membuat para guru termotivasi, dirinya berujar hal itu diketahuinya saat menginap di beberapa tempat tinggal guru saat melakukan kunjungan kerja, tidak ada kata putus asa yang terlontar dari mulut para pendidik tersebut.

“Bukan hanya tekanan psikologis akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ), namun juga tekanan ekonomi untuk memperjuangkan keluarganya agar bisa makan,” lanjutnya
Menteri Nadiem Anwar Makarim merasa termotivasi untuk memperjuangkan kemerdekaan belajar, dimana menurutnya pandemi covid-19 yang melanda Indonesia tidak memadamkan semangat para guru, justru mengobarkan semangat perubahan.
Nadiem mengatakan sejak pertama kali dicetuskannya Merdeka Belajar sudah berubah dari sebuah kegiatan menjadi gerakan, ia mencontohkan bagaimana penyederhanaan kurikulum sebagai salah satu kebijakan merdeka belajar yang telah menciptakan ribuan inovasi pembelajaran, yang mana hal tersebut menurutnya akan semakin kuat karena ujian yang dihadapi bersama selama ini.

“Saya tidak akan menyerah untuk memperjuangkan merdeka belajar, demi kehidupan dan masa depan guru se-Indonesia yang lebih baik lagi kedepannya,” ujar Rendi membaca teks sambutan Nadiem.
Turut hadir pada kegiatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Tauhid Afrilian Noor, Kabid GTK Joko Sampuno, Kabid Dikdas Nur Kholis, Camat Samboja Burhanuddin, Ketua PGRI Kukar Yonathan Palinggi serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kecamatan Samboja.
Pewarta Nonok














































