KUTIM – Ajang Kutai Timur Traditional Archery Tournament Bupati Cup Series 3 Tahun 2025 resmi berakhir pada Minggu (28/12/2025). Turnamen panahan tradisional yang digelar di Lapangan Alun-alun Bukit Pelangi tersebut ditutup oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Asisten Pemerintahan Umum dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabupaten Kutim, Trisno, yang hadir bersama Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kutim, Basuki Isnawan.
Dalam sambutan penutupnya, Trisno menegaskan bahwa panahan tradisional memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar aktivitas olahraga. Menurutnya, panahan merupakan bagian dari warisan budaya Nusantara yang telah tumbuh dan berkembang jauh sebelum masa kemerdekaan Indonesia.
Ia menyinggung nilai historis panahan yang telah tercatat sejak era Kerajaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, kemampuan memanah dikenal melalui konsep Laras Panji, yang mencerminkan keterampilan sekaligus nilai-nilai luhur dalam kehidupan.
“Panahan tradisional ini merupakan sarana pembentukan karakter. Di dalamnya terdapat latihan kesabaran, kekuatan, ketepatan, serta yang paling penting adalah keselarasan antara pikiran, hati, dan gerak tubuh,” ujar Trisno.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tujuan utama turnamen ini bukan semata-mata meraih kemenangan, melainkan menanamkan nilai-nilai filosofi panahan yang dapat membentuk pribadi yang tangguh dan berkarakter. Hal tersebut sejalan dengan arah pembangunan sumber daya manusia yang tengah diupayakan Pemerintah Kabupaten Kutim dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Pada kesempatan itu, Trisno juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pemuda dan Olahraga Kutim atas komitmennya dalam menyelenggarakan turnamen panahan tradisional secara berkelanjutan. Ia menilai konsistensi tersebut menjadi kunci berkembangnya ajang ini hingga dikenal di tingkat nasional.
“Saya sempat berdiskusi dengan Mas Bas. Dalam tiga tahun terakhir, Dispora menunjukkan konsistensi yang luar biasa. Harapan Bupati, kegiatan ini terus berlanjut dan berkembang. Tidak hanya untuk prestasi nasional, tetapi juga untuk membentuk generasi yang kuat dan siap membangun Kutim,” tambahnya.
Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan hadiah kepada para atlet berprestasi. Purnama Abu Fazly dari NRC Donggala tampil gemilang dengan meraih juara pada kategori Aduan 70 Meter dan Kualifikasi 70 Meter. Sementara itu, Abu Alifah menjadi terbaik di Kualifikasi 40 Meter. Pada kategori jarak pendek, Al Fathan Faeyza (5 meter putra) dan Zaskia Aqila Zahra (5 meter putri) keluar sebagai juara. Untuk kategori 7 meter, gelar juara diraih Rasya Zikri Al Arkhan (putra) dan Zahrini Azzahra Rukman (putri). Adapun pada kategori 10 meter, Muhammad Asyam Abdullah (putra) dan Shanum Humairah (putri) berhasil menjadi yang terbaik.
Dengan berakhirnya Series 3, Kutim Traditional Archery Tournament semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu kejuaraan panahan tradisional paling prestisius di Kalimantan Timur. Ajang ini tidak hanya menjadi arena kompetisi olahraga, tetapi juga ruang pelestarian budaya dan penguatan karakter generasi muda melalui nilai-nilai luhur Nusantara. (adv)














































